Insentif Impor Mobil Listrik: Bak Buah Simalakama Bagi Industri Otomotif
Insentif dihadirkan untuk memancing datangnya investasi ke industri dalam negeri.
JAKARTA, Carvaganza - Pemerintah memberikan fasilitas insentif impor mobil listrik berbasis baterai (BEV) hingga akhir 2025. Tujuannya adalah memikat produsen otomotif agar menanamkan modal di Indonesia. Menurut pengamat otomotif sekaligus peneliti LPEM FEB UI, Riyanto, kebijakan ini berhasil mendorong penjualan mobil listrik secara signifikan.
KEY TAKEAWAYS
Apa tujuan pemerintah memberikan insentif impor mobil listrik?
Insentif impor BEV diberikan untuk menarik investasi produsen otomotif agar menanam modal di Indonesia dan mempercepat adopsi kendaraan listrik.Bagaimana dampaknya terhadap industri lokal?
Industri komponen dalam negeri terancam karena penjualan mobil lokal menurun, sementara mobil listrik impor dengan TKDN rendah justru meningkat."Sejak September/Oktober 2022, kalau kita perhatikan penjualan bulanan mobil kendaraan listrik itu luar biasa meningkatnya," ujar Riyanto dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) 'Polemik Insentif BEV Impor', di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (25/8/2025) lalu.
Ia menyebut insentif ini sebagai fase "nyicip pasar," yang memberi ruang bagi konsumen untuk mencoba mobil listrik sebelum produksi dalam negeri benar-benar masif. Langkah ini dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat manufaktur kendaraan listrik.
Foto: Oto Group
Namun, Riyanto menegaskan fase "nyicip" seharusnya berakhir pada 2025. Jika diperpanjang, target produksi nasional sebesar 400.000 unit bisa terancam. "Ini menyangkut kredibilitas kebijakan," tegasnya. Investor yang telah membangun pabrik dengan kapasitas besar bisa merasa dirugikan karena utilisasi pabrik tidak optimal.
Baca Juga: MG 4 EV Terbaru Debut di Cina, Sudah Pakai Baterai Semi-Solid-State
Bagi konsumen, insentif ini tentu menguntungkan karena harga lebih terjangkau. Tetapi dari sisi industri komponen dan fiskal, dampaknya perlu diperhitungkan. Pemasukan ekonomi dari impor BEV cenderung terbatas hanya di sektor perdagangan tanpa memberikan multiplier effect signifikan pada industri dalam negeri.
Ancaman Bagi Industri Komponen Otomotif
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menghantui sektor komponen otomotif Indonesia. Penyebabnya adalah turunnya penjualan mobil produksi lokal dan masuknya mobil listrik impor dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) rendah. Kondisi ini melemahkan ekosistem industri yang selama ini menopang perekonomian.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penjualan wholesales tahun 2024 hanya mencapai 865.723 unit, turun 13,9 persen dibanding 2023 yang mencapai 1,03 juta unit. Penurunan paling terasa terjadi di segmen mobil menengah seharga Rp200–400 juta, yang sebelumnya menyumbang hampir setengah pasar nasional.
Foto: CV/Wahyu
Dalam sepuluh tahun terakhir, penjualan segmen ini turun lebih dari 40 persen—dari 551.000 unit pada 2014 menjadi hanya 315.000 unit pada 2024. Dampaknya, ribuan perusahaan komponen, termasuk industri kecil dan menengah (IKM), ikut terpukul.
Sementara itu, penjualan mobil listrik impor justru meningkat. Pada periode yang sama, pasar BEV di segmen menengah tumbuh 17 persen. Menurut Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, fenomena ini semakin menekan produk domestik dengan kandungan lokal tinggi.
"Kalau semakin menurun (penjualan dan permintaan) akan cukup berat karena supply-nya semakin menurun," kata Kukuh. Ia menambahkan, meski Gaikindo tidak membawahi industri komponen, keluhan dari pemasok lokal semakin sering terdengar.
Produksi Lokal Hyundai Kona EVFoto: Oto Group
Strategi Pemerintah untuk Industri Komponen
Menghadapi situasi ini, pemerintah mulai menyiapkan langkah antisipasi. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian, Mahardi Tunggul Wicaksono, menyatakan pihaknya mendorong industri komponen agar memperluas pasar.
"Kami mulai mengarahkan industri komponen untuk switching bukan hanya membuat komponen untuk kendaraan listrik, tetapi juga bisa menyasar ke sektor industri aviasi dan maritim," jelas Mahardi.
Indonesia sebenarnya memiliki ekosistem otomotif yang kuat. Data Gaikindo dan Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) mencatat ada 22 produsen (OEM), 550 pemasok Tier 1, serta sekitar 1.000 pemasok Tier 2 dan 3, termasuk banyak UKM. Sektor ini menyerap 1,5 juta tenaga kerja, memproduksi 1,2 juta unit mobil pada 2024, dan mengekspor lebih dari 500.000 unit senilai 8 miliar dolar AS ke lebih dari 100 negara. Kontribusinya terhadap PDB manufaktur nasional mencapai 8 persen.
Dengan kontribusi sebesar ini, melindungi industri otomotif lokal—khususnya sektor komponen—menjadi krusial. Pemerintah perlu kebijakan yang lebih terarah agar industri tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh di tengah disrupsi mobil listrik impor.
(ZENUAR YOGA / WH)
Baca Juga:
Ikuti Pertumbuhan Pasar EV, Kalista Group Tingkatkan Pengembangan Infrastruktur
Chery QQ3 Debut di Chengdu Auto Show 2025, Bangkitkan Model Pionir Sebagai EV
Featured Articles
- Latest
- Popular
Artikel yang mungkin menarik untuk Anda
Mobil Pilihan
- Latest
- Upcoming
- Popular
Updates
New cars
Drives
Review
Video
Hot Topics
Interview
Modification
Features
Community
Gear Up
Artikel Mobil dari Oto
- Berita
- Artikel Feature
- Advisory Stories
- Road Test
Artikel Mobil dari Zigwheels
- Motovaganza
- Tips
- Review
- Artikel Feature