Penjualan Turun, Kemenperin Upayakan Insentif Demi Cegah Risiko PHK
Wholesales Januari–Oktober 2025 mencapai 634.844 unit (turun 10,6%), sementara retail 660.659 unit (turun 9,6%).
JAKARTA, Carvaganza - Penjualan mobil baru di Indonesia terus mengalami tekanan. Kondisi ini membuat pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin), menilai bahwa industri otomotif nasional membutuhkan dukungan insentif agar utilitas produksi tetap terjaga dan potensi pemutusan hubungan kerja dapat dicegah.
KEY TAKEAWAYS
Mengapa Kemenperin menilai industri otomotif butuh insentif?
Karena penjualan dan produksi kendaraan menurun tajam, sehingga membutuhkan kebijakan untuk menjaga utilitas pabrik, investasi, dan tenaga kerja.Segmen mana yang penurunannya paling besar?
LCGC mencatat penurunan terdalam, anjlok sekitar 40 persen.Gaikindo sebelumnya menurunkan proyeksi penjualan mobil nasional tahun 2025 menjadi hanya 780 ribu unit. Melemahnya daya beli menjadi faktor utama. Situasi ini mendorong Kemenperin untuk menekankan urgensi kebijakan insentif yang dapat memperkuat ekosistem otomotif dari sisi produksi, investasi hingga stabilitas tenaga kerja.
Foto: Dyandra
73 Persen Penjualan EV Masih Berasal dari Impor
Penjualan kendaraan listrik meningkat tajam sepanjang 2025, namun mayoritas unit masih bergantung pada impor. Sepanjang Januari–Oktober 2025, total penjualan EV mencapai 69.146 unit, dengan sekitar 73 persen merupakan produk impor. Artinya, proses produksi, penyerapan tenaga kerja, dan nilai tambah industri justru terjadi di negara asal produsen, bukan di dalam negeri.
Di sisi lain, segmen kendaraan konvensional yang diproduksi lokal dan memiliki kontribusi terbesar terhadap pasar otomotif nasional tengah mengalami penurunan penjualan signifikan, bahkan jauh di bawah kapasitas produksi.
Baca Juga: Sesuaikan Pasar, BAIC Indonesia Pertimbangkan BJ30 Versi 7-Seater Tahun Depan
Dalam keterangan tertulis, juru bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan: “Jadi, keliru jika kita menyatakan industri otomotif sedang dalam kondisi kuat dengan hanya mengandalkan indikator pertumbuhan kendaraan di segmen tertentu... Kami memandang bahwa dibutuhkan insentif untuk membalikkan keadaan tersebut.”
Ramainya Pameran Bukan Indikator Kekuatan Industri
Fenomena meningkatnya pameran otomotif di berbagai daerah bukanlah bukti industri sedang bergairah. Menurut Kemenperin, banyaknya pameran justru menjadi upaya pelaku industri menjaga permintaan di tengah penurunan penjualan dan kekhawatiran terhadap potensi PHK.
“Banyaknya pameran otomotif... adalah upaya dan perjuangan industri untuk tetap mempertahankan demand... kita harus menggunakan data statistik yang ada supaya menggambarkan kondisi obyektif industri otomotif saat ini,” ujar Febri.
Kemenperin menilai indikator paling penting dalam mengukur kesehatan industri otomotif adalah angka penjualan kendaraan ke pasar, bukan sekadar kreasi produk baru atau besarnya investasi yang masuk.
Foto: Aion
Penjualan Mobil Nasional Turun Dalam 10 Bulan Terakhir
Data Gaikindo mencatat, penjualan wholesales (pabrik ke dealer) sepanjang Januari–Oktober 2025 hanya mencapai 634.844 unit, turun 10,6 persen dari tahun sebelumnya (711.064 unit). Sementara penjualan retail (dealer ke konsumen) merosot 9,6 persen menjadi 660.659 unit dari sebelumnya 731.113 unit.
Kontraksi ini memperkuat urgensi kebijakan insentif yang dinilai penting untuk memulihkan pasar kendaraan bermotor dan menjaga keberlangsungan industri otomotif. Selain membantu industri, insentif disebut dapat memberikan manfaat langsung bagi konsumen, terutama melalui potensi penurunan harga kendaraan dan perbaikan sentimen pasar, khususnya untuk pembeli kelas menengah dan pembeli mobil pertama.
Menurut Febri, meski bentuk dan sasaran insentif belum dirumuskan, arah kebijakan kemungkinan menyasar segmen menengah ke bawah serta mempertimbangkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“Walaupun Kemenperin belum merumuskan jenis, bentuk dan target insentif... usulan akan mengarah ke segmen kelas menengah-bawah dan didasarkan terhadap nilai TKDN,” tegasnya.
Foto: Daihatsu
Segmen LCGC Paling Terpukul, Produksi Menurun
Data ILMATE menunjukkan produksi kendaraan Januari–Oktober 2025 turun menjadi 957.293 unit dari 996.741 unit pada 2024. Penurunan terdalam terjadi di segmen kendaraan murah seperti LCGC (di bawah Rp200 juta) yang merosot hingga 40 persen.
Penurunan juga terjadi pada:
- Segmen low (Rp200–400 juta): turun 36 persen
- Kendaraan komersial: turun 23 persen
Ketiga kategori tersebut selama ini menjadi fondasi produksi otomotif dalam negeri, sekaligus menyasar pasar kelas menengah yang merupakan konsumen terbesar.
Pelemahan simultan ini memengaruhi utilitas pabrik, investasi, hingga potensi terganggunya keberlanjutan pekerjaan di sektor otomotif dan pendukungnya.
“Tidak adanya intervensi kebijakan akan membuat tekanan ini semakin dalam...” jelas Kemenperin.
Selain itu, ketidakpastian bentuk insentif membuat sebagian konsumen menunda pembelian kendaraan, termasuk di pasar mobil bekas, karena menunggu potensi perubahan kebijakan.
(ANJAR LEKSANA / WH)
Baca Juga: Retail Sales Daihatsu November 2025 Naik, LCGC dan Terios Ikut Tumbuh
Featured Articles
- Latest
- Popular
Artikel yang mungkin menarik untuk Anda
Mobil Pilihan
- Latest
- Upcoming
- Popular
Updates
New cars
Drives
Review
Video
Hot Topics
Interview
Modification
Features
Community
Gear Up
Artikel Mobil dari Oto
- Berita
- Artikel Feature
- Advisory Stories
- Road Test
Artikel Mobil dari Zigwheels
- Motovaganza
- Tips
- Review
- Artikel Feature