43 Tahun Hino Indonesia: Genjot TKDN dan Ekspor, Hadapi Tantangan Gempuran Truk Impor
Pada tahun 2025, tingkat utilisasi produksi pabrik Hino turun menjadi rata-rata 25%, padahal angka normal biasanya berada di kisaran 35-40%.
PURWAKARTA, Carvaganza - Memasuki usia ke-43 tahun operasionalnya di Tanah Air, Hino kembali menegaskan peran vitalnya sebagai tulang punggung transportasi Indonesia. Komitmen ini tidak sekadar jargon, melainkan diwujudkan melalui penguatan ekosistem industri lokal, investasi manufaktur besar-besaran, serta layanan purna jual yang terintegrasi demi menjaga roda bisnis pelanggan tetap berputar.
KEY TAKEAWAYS
Berapa Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada truk Hino?
Produk Hino saat ini memiliki nilai TKDN di atas 40% dengan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) sebesar 14,10%, menunjukkan tingginya penggunaan komponen lokal.Ke mana saja Hino Indonesia melakukan ekspor?
Hino Indonesia telah mengekspor kendaraan (CBU & CKD) serta komponen ke berbagai negara di Asia Tenggara (Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia), Asia Timur (Jepang, Taiwan), Asia Selatan (Pakistan), hingga Amerika Selatan dan Karibia (Bolivia, Haiti).Keseriusan Hino terlihat jelas pada fasilitas PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI). Berdiri di atas lahan seluas 296.000 m², pabrik ini menjadi basis produksi terintegrasi yang didukung oleh 1.548 tenaga kerja terampil. Dengan kapasitas produksi mencapai 75.000 unit per tahun, HMMI memproduksi berbagai kategori kendaraan mulai dari light duty, medium duty, hingga bus dengan standar kualitas ketat dari Hino Motors Limited, Jepang.
Salah satu bukti nyata kontribusi Hino bagi ekonomi nasional adalah tingginya penggunaan komponen dalam negeri yang telah melampaui ambang batas industri.
Foto: Hino
“Komitmen Hino terhadap penguatan industri nasional juga tercermin dari Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk Hino yang telah mencapai di atas 40%. Ditambah lagi Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) 14,10%, tentu saja ini bukti dari strategi jangka panjang untuk mendorong pemanfaatan komponen lokal, pengembangan supplier dalam negeri, serta penguatan rantai pasok industri otomotif nasional,” terang Harianto Sariyan, Direktur PT HMMI dalam sambutannya saat kunjungan media ke pabrik Hino di Purwakarta, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga: Menyambangi BYD Di-Space, Museum NEV Futuristik Berisi Inovasi Mobil Listrik
Tantangan Berat: Banjir Truk Impor
Di balik perayaan dedikasi empat dekade ini, Hino tengah menghadapi ombak besar berupa membanjirnya produk truk asal Cina di pasar domestik. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan yang dinilai kurang melindungi produsen yang telah menanamkan investasi besar. Dampaknya signifikan, pada tahun 2025, utilisasi produksi pabrik Hino anjlok ke angka rata-rata 25 persen, jauh dari kondisi normal di kisaran 35-40 persen.
“Kalau impor itu cukup dengan satu kantor dan puluhan karyawan bisa mendatangkan belasan ribu unit setahun. Sementara industri manufaktur melibatkan ribuan pekerja dan rantai pasok panjang. Ini tantangan serius bagi industri nasional. Ada sekitar 150 ribu orang yang terkait dengan industri kita, termasuk yang ada di rantai pasok. Kita pabrik, orang di sini bekerja,” ujar Harianto menyoroti ketimpangan tersebut.
Foto: Hino
Hingga kini, Hino masih mampu mempertahankan tenaga kerjanya, namun peringatan keras disampaikan jika situasi ini tidak segera diatur oleh pemerintah.
“Beruntung tidak ada pemutusan hubungan kerja sampai saat ini. Kami terus berkomunikasi dengan pekerja, menjelaskan kondisinya. Namun jika tidak dibatasi oleh pemerintah (truk impor), bisa jadi peristiwa Sritex kedua di industri otomotif,” tegas Harianto.
Senada dengan itu, Wibowo Santoso, Supply Chain, Marketing & Communication Division Head HMSI, mengungkapkan data yang mengkhawatirkan di mana volume truk impor China yang masuk setara dengan total produksi Hino pada 2025. Ketidakadilan fiskal menjadi sorotan utama.
“Produk impor bisa masuk dengan beban biaya yang jauh lebih ringan, sementara kami membeli baja saja dikenakan bea masuk 5 sampai 10 persen. Ini tentu membuat produk lokal tertekan,” ungkap Wibowo.
Strategi Bertahan dan Ekspansi Global
Menghadapi situasi ini, Hino telah membuka dialog dengan Kementerian Perindustrian, berharap adanya diferensiasi kebijakan yang adil antara produk impor utuh dan produk rakitan lokal. Sembari menunggu regulasi, Hino memperkuat strategi layanan purna jual untuk memastikan kendaraan konsumen memiliki downtime seminimal mungkin.
“Jadi kami tingkatkan aftersales service availability. Bagaimana konsumen bisa mendapatkan sukucadang untuk memperbaiki kerusakan dalam waktu singkat. Ini juga memperlihatkan bentuk komitmen jangka panjang,” tambah Wibowo.
Foto: Hino
Melihat proyeksi pasar yang masih belum menentu akibat penurunan di sektor pertambangan, Hino kini bermanuver mengembangkan portofolio ke sektor logistik dan proyek pemerintah.
“Tahun ini masih belum pasti. Namun kami coba kembangkan portofolio lain, seperti ke logistik, dimana market share kami meningkat di situ. Beruntung, pemerintah sudah mengumumkan proyek koperasi Merah Putih untuk mensupport ke masyarakat. Kami juga dapat di situ,” jelas Wibowo.
Di sisi lain, Hino membuktikan kualitas manufaktur Indonesia di mata dunia. Sejak ekspor perdana tahun 2011, Hino Indonesia konsisten mengirimkan kendaraan dalam bentuk utuh (CBU), terurai (CKD), hingga komponen ke berbagai negara seperti Vietnam, Filipina, kawasan Amerika Selatan, hingga ke negara asalnya, Jepang. Hal ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai basis produksi strategis global, bukan sekadar pasar konsumen.
(SETYO ADI / WH)
Baca Juga: Geely Siapkan Ekspansi di Indonesia, Bakal Bawa Zeekr dan Lynk & Co
Featured Articles
- Latest
- Popular
Artikel yang mungkin menarik untuk Anda
Mobil Pilihan
- Latest
- Upcoming
- Popular
Updates
New cars
Drives
Review
Video
Hot Topics
Interview
Modification
Features
Community
Gear Up
Artikel Mobil dari Oto
- Berita
- Artikel Feature
- Advisory Stories
- Road Test
Artikel Mobil dari Zigwheels
- Motovaganza
- Tips
- Review
- Artikel Feature