Pemerintah Tolak Insentif Untuk Mobil Hybrid di Indonesia, Ini Alasannya

Menperin tegaskan tidak akan ada kebijakan baru untuk tahun ini.

Toyota Yaris Cross Hybrid

JAKARTA, Carvaganza - Resmi telah diputuskan bahwa mobil hybrid di Indonesia tidak akan dapat insentif. Dalam konferensi pers tentang Pertumbuhan Ekonomi Kuartal Kedua 2024, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah tidak akan memberikan insentif untuk mobil hybrid maupun mesin pembakaran internal (ICE).

Selain itu, tidak ada kebijakan baru yang akan dikeluarkan untuk industri otomotif tahun ini. Sebelumnya, Gaikindo sebagai asosiasi industri otomotif menyatakan perlunya dukungan pemerintah untuk mencegah stagnasi dalam penjualan mobil. Namun, pemerintah menegaskan tidak akan ada aturan baru karena beberapa alasan.

"Untuk sektor otomotif, kebijakan sudah dikeluarkan dan tidak ada perubahan tambahan lainnya. Jika kita lihat, penjualan mobil hybrid jumlahnya dua kali lebih banyak dibandingkan dengan mobil listrik murni (BEV). Jadi, sebetulnya, pengembangan produk hybrid sudah berjalan dengan mekanisme yang ada sekarang. Tentu kami mendorong agar kendaraan listrik dapat berkembang lebih cepat. Dari pameran otomotif (GIIAS 2024) kemarin, hasilnya relatif bagus untuk mendorong penjualan," jelas Airlangga.

Wuling Almaz Hybrid

Selain itu, usulan untuk memberikan insentif PPnBM DTP guna meningkatkan penjualan mobil secara nasional juga tidak akan diberikan, setidaknya selama satu tahun ini. Saat pandemi Covid-19, pemerintah pernah mengeluarkan program insentif berupa diskon pajak penjualan barang mewah yang ditanggung pemerintah bagi kendaraan roda empat. Program tersebut berhasil menjadi stimulus yang meningkatkan kinerja sektor otomotif dan industri pendukung. Namun, harapan untuk insentif serupa tahun ini harus pupus.

Baca Juga: Dapat Dukungan Kemenperin, IMX 2024 Life To The World Siap Digelar Oktober Mendatang

"Pelemahan permintaan ini tentunya harus dilihat dari sisi supply and demand industri. Beberapa sektor, termasuk otomotif, mengalami over supply. Contohnya, penjualan mobil dalam enam bulan terakhir turun 11 persen, dan ekspornya juga turun. Namun, kami berharap bisa mengejar ketertinggalan pada semester kedua. Terkait pengembangan BEV, perlu adanya infrastruktur yang mendukung. Ada juga kenaikan di sektor hybrid. Mereka sempat menunggu apakah akan ada kebijakan baru atau tidak. Jadi, pemerintah akan tetap dengan kebijakan yang ada saja," tambah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Menurut data dari Gaikindo, selama semester pertama 2024 (Januari-Juni), penjualan wholesales mobil hybrid (HEV) mencapai 24.066 unit, naik 46,08 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023. Peningkatan ini didorong oleh peluncuran produk baru yang menarik minat masyarakat.

Honda Accord Hybrid

Sementara itu, penjualan mobil listrik murni (BEV) pada semester pertama 2024 mencapai 11.944 unit, meningkat drastis sebesar 104,1 persen. Data ini menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk tidak memberikan insentif baru bagi kendaraan hybrid (HEV).

Sebagai tambahan informasi, beberapa pabrikan otomotif di Indonesia, seperti Toyota dan Wuling, memproduksi dan merakit mobil hybrid di dalam negeri dalam kategori strong hybrid, sementara Suzuki memproduksi mobil hybrid ringan.
(ANJAR LEKSANA / WH)

Baca Juga: Pasar Otomotif Lesu, FIF Astra Jusrtu Raih Kenaikan Laba di Semester 1

Featured Articles

Read All

Artikel yang mungkin menarik untuk Anda

Mobil Pilihan

  • Upcoming

Updates

Artikel lainnya

New cars

Artikel lainnya

Drives

Artikel lainnya

Review

Artikel lainnya

Video

Artikel lainnya

Hot Topics

Artikel lainnya

Interview

Artikel lainnya

Modification

Artikel lainnya

Features

Artikel lainnya

Community

Artikel lainnya

Gear Up

Artikel lainnya

Artikel Mobil dari Oto

  • Berita
  • Artikel Feature
  • Advisory Stories
  • Road Test

Artikel Mobil dari Zigwheels

  • Motovaganza
  • Tips
  • Review
  • Artikel Feature