Komunitas Mobil Listrik Turing Jakarta-Lampung, KOLEKSI Uji Langsung SPKLU dan Biayanya
Sebanyak 23 mobil listrik menempuh perjalanan Jakarta-Lampung pada momen Kemerdekaan. Hasilnya menunjukkan jaringan SPKLU cukup bisa diandalkan, meski masih ada persoalan akses dan kesiapan fasilitas.
JAKARTA, Carvaganza - Perjalanan ratusan kilometer menggunakan mobil listrik murni kini semakin mudah dilakukan. Hal itu coba dibuktikan Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) melalui perjalanan Jakarta menuju Lampung yang diikuti 23 mobil listrik dari berbagai merek.
KEY TAKEAWAYS
Kapan Turing Kemerdekaan KOLEKSI digelar?
Kegiatan berlangsung pada 15-17 Agustus 2026 dan menjadi bagian dari perayaan ulang tahun KOLEKSI yang kelimaKenapa daya SPKLU bisa terbagi?
Ketika satu unit charger digunakan oleh dua kendaraan secara bersamaan, daya yang tersedia akan dibagi ke masing-masing mobilKegiatan tersebut dikemas dalam ekspedisi bertajuk "Turing Kemerdekaan" yang berlangsung pada 15-17 Agustus 2026. Momen ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan ulang tahun KOLEKSI yang kelima.
Namun, perjalanan tersebut bukan sekadar agenda komunitas. KOLEKSI juga memanfaatkan perjalanan ini untuk melihat langsung kondisi SPKLU di sepanjang rute Tol Jakarta-Merak hingga sejumlah ruas Tol Trans-Sumatra.
Hasil pengamatan kemudian diumumkan pada 1 September 2026. Secara umum, jaringan pengisian daya yang mereka temui dinilai sudah cukup mendukung perjalanan antarpulau. Hanya saja, masih ditemukan beberapa kendala yang tidak berkaitan langsung dengan mesin pengisi daya.
SPKLU Berfungsi Normal, tetapi Output Daya Tidak Selalu Sama
Selama perjalanan, KOLEKSI memantau sejumlah titik SPKLU yang mereka singgahi. Dari hasil pemeriksaan, seluruh unit pengisi daya yang digunakan dinilai dapat beroperasi dengan baik.
Foto: KOLEKSI
Meski begitu, besaran daya yang diterima mobil ternyata bisa berbeda. Kondisinya dipengaruhi tingkat penggunaan charger dan jenis kendaraan yang sedang mengisi daya.
Contohnya terlihat di SPKLU KM 13,5A Karang Tengah. Unit pengisi daya Teison dengan kapasitas 200 kW tercatat mampu memberikan output hingga 178 kW.
Sementara itu, di KM 68A Serang, charger berkapasitas 120 kW mampu bekerja sesuai kapasitas yang tersedia. Kondisi tersebut juga tetap berlaku ketika satu unit digunakan oleh dua mobil sekaligus.
Ketika dua kendaraan tersambung pada charger yang sama, daya akan dibagi di antara keduanya. Karena itu, besaran daya yang diterima masing-masing mobil tidak selalu sama dengan angka maksimal yang tertera pada perangkat.
Bukan Charger, Truk Parkir Jadi Masalah Utama
Menariknya, kendala terbesar yang ditemukan KOLEKSI justru tidak berasal dari sistem pengisian daya. Persoalan ada pada akses menuju area SPKLU.
Sejumlah pintu masuk rest area diketahui terhambat oleh truk besar yang berhenti atau mengantre di sembarang tempat. Akibatnya, pengguna mobil listrik kesulitan mencapai lokasi pengisian daya.
Foto: KOLEKSI
Situasi seperti ini ditemukan di KM 43A dan KM 68A pada jalur Tol Jakarta-Merak. Masalah serupa juga terlihat di KM 68B dan KM 45B pada arah sebaliknya, yakni Tol Merak-Jakarta.
Padahal setelah berhasil melewati akses masuk, area parkir di sekitar SPKLU dinilai cukup luas. Dengan kata lain, persoalannya bukan kapasitas area pengisian, melainkan bagaimana kendaraan bisa mencapai lokasi tersebut.
KOLEKSI menilai kondisi ini perlu ditangani bersama oleh pengelola rest area, operator jalan tol, dan kepolisian. Tujuannya agar akses menuju SPKLU tidak kembali tertutup oleh kendaraan besar yang parkir atau berhenti sembarangan.
Ketua Umum KOLEKSI, Arwani Hidayat, mengatakan temuan selama perjalanan menjadi bagian dari peran komunitas dalam ikut mengawal perkembangan ekosistem kendaraan listrik.
"Secara teknis, mesin charger rata-rata merespons dengan daya output yang wajar. Namun, pengamatan kami menitikberatkan pada kendala nonteknis yang tak kalah krusial," kata Arwani.
"Akses masuk rest area yang kerap tertutup antrean truk besar sangat menyulitkan manuver mobil listrik menuju port charging maupun kendaraan lain yang membutuhkan keperluan ke rest area. Kami juga mendorong penyedia SPKLU untuk segera memperbarui spesifikasi APAR yang memadai di lokasi agar sesuai dengan standar mitigasi kebakaran baterai EV, demi keamanan seluruh pengguna," tambahnya.
PLN Nilai Masukan Komunitas Penting untuk Pengembangan EV
Hasil pemantauan KOLEKSI mendapat respons positif dari PT PLN (Persero). Sebagai salah satu pihak utama dalam penyediaan infrastruktur kelistrikan, PLN menilai pengalaman langsung pengguna bisa menjadi masukan penting untuk pengembangan jaringan kendaraan listrik.
Foto: KOLEKSI
Direktur Retail dan Niaga PLN, M. Fahrur Rozy, menyebut komunikasi dengan komunitas pengguna perlu terus diperkuat. Menurutnya, masukan dari pengguna di lapangan dapat membantu memastikan pembangunan infrastruktur EV benar-benar menjawab kebutuhan perjalanan sehari-hari.
"PLN menempatkan pengalaman pengguna sebagai tolok ukur utama dalam percepatan infrastruktur kendaraan listrik. Kami menyambut sangat baik hasil uji langsung di lapangan dari rekan-rekan KOLEKSI. Ini adalah bukti bahwa ekosistem EV yang tangguh di Indonesia dibangun melalui kolaborasi erat antara penyedia infrastruktur dan komunitas yang kritis," tegas M. Fahrur Rozy.
Jakarta-Lampung Hanya Habiskan Rp378 per Km
Selain mengecek kondisi SPKLU, perjalanan ini juga memberikan gambaran mengenai biaya menggunakan mobil listrik untuk perjalanan jauh.
Ketua Panitia Penyelenggara Turing Kemerdekaan, Danny Siwu, melihat kegiatan tersebut sebagai pembuktian bahwa kendaraan listrik semakin siap digunakan untuk perjalanan lintas pulau.
"Keberhasilan ekspedisi ini menunjukkan kemerdekaan sesungguhnya. Merdeka dari membebani APBN dari subsidi BBM, merdeka bermobilitas ke pulau di luar Jawa dengan ketersediaan dan keandalan SPKLU, dan merdeka melintas antarpulau dengan dukungan positif dari penyedia angkutan penyeberangan. Di sini kami membuktikan bahwa ekosistem mobilitas listrik antarpulau sudah terbentuk dengan baik, meski belum sempurna 100 persen," ujar Danny.
Dari perhitungan perjalanan, rombongan menempuh rute Jakarta-Pahawang, Lampung, pergi-pulang dengan total jarak sekitar 600 km.
Total biaya pengisian daya yang dikeluarkan mencapai Rp226.800. Artinya, jika dihitung berdasarkan jarak tempuh, kebutuhan biaya listriknya sekitar Rp378 per kilometer dengan tarif publik SPKLU.
Angka tersebut menunjukkan salah satu kelebihan mobil listrik untuk perjalanan jarak jauh, terutama dari sisi biaya energi. Meski begitu, pengalaman KOLEKSI juga memperlihatkan bahwa kesiapan infrastruktur bukan hanya soal jumlah charger, tetapi juga akses menuju lokasi serta kelengkapan fasilitas pendukungnya. (ANINDIYO PRADHONO)
Baca Juga: GR Enthusiast Rayakan Ulang Tahun ke-3 dengan Konsep Berbeda
Featured Articles
- Latest
- Popular
Artikel yang mungkin menarik untuk Anda
Mobil Pilihan
- Latest
- Upcoming
- Popular
Updates
New cars
Drives
Review
Video
Hot Topics
Interview
Modification
Features
Community
Gear Up
Artikel Mobil dari Oto
- Berita
- Artikel Feature
- Advisory Stories
- Road Test
Artikel Mobil dari Zigwheels
- Motovaganza
- Tips
- Review
- Artikel Feature