Beranda Updates GIIAS Surabaya 2018 Tak Fokus Pada Target Penjualan

GIIAS Surabaya 2018 Tak Fokus Pada Target Penjualan

SURABAYA, 16 September 2018 — Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Surabaya 2018 kembali berlangsung pada 15-23 September 2018. Tak seperti gelaran sebelumnya, pameran otomotif terbesar di Jawa Timur ini tak memfokuskan diri pada target penjualan.

GIIAS Surabaya sendiri berlangsung pertama kali pada 2015. Saat itu pengunjung sebanyak 30.000 dengan penjualan mencapai 1.100 unit. Setahun kemudian, lebih dari 34.000 pengunjung yang datang dan penjualan meningkat menjadi 1.300 unit. Tahun lalu pengunjungnya mencapai 38.000 dengan penjualan mencapai 1.700 unit.

Pada GIIAS Surabaya 2018, One Event selaku penyelenggara memprediksi potensi pengunjung akan mencapai 50.000. Uniknya, mereka memperkirakan potensi unit kendaraan yang terjual hanya 1.200 unit. Dengan kata lain lebih rendah 500 unit dari tahun sebelumnya.

Yusuf Karim Ungsi, Project Director GIIAS Roadshow 2018, mengatakan, “GIIAS itu sendiri lebih besar dari sekadar jualan. Jadi sales bukanlah target kami. Kami lebih mementingkan kenyamanan pengunjung. Jadi kesuksesan acara bisa dilihat dari jumlah pengunjung yang datang.”

Sementara itu, Kukuh Kumara, Sekretaris umum Gaikindo, menambahkan, “Pameran ini untuk mendekatkan produsen otomotif ke konsumen. Jadi kami berharap ke depannya GIIAS diikuti oleh lebih banyak APM [bukan dealer] agar konsumen mendapat informasi lengkap mengenai kemampuan dan teknologi produknya.”

Apakah rendahnya prediksi penjualan kendaraan pada GIIAS Surabaya 2018 akibat meningkatnya nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah sehingga mempengaruhi harga?

“Harga mobil sebenarnya tergantung dari pabrikan masing-masing. Nilai tukar dolar memang memiliki dampak terhadap ekonomi. Tapi trennya, dampak tersebut semakin rendah karena beberapa pabrikan di Indonesia mengandalkan penjualan ekspor kendaraan CBU mereka. Apalagi sekitar 80% suku cadang kendaraan ekspor berasal dari lokal,” ujar Kukuh lagi.

MIRAH PERTIWI