Beranda Features TWTW: Maria Teresa de Filippis, Breaking the Wall

TWTW: Maria Teresa de Filippis, Breaking the Wall

Maria Teresa de Filippis mendobrak prasangka terhadap kemampuan perempuan di balik kemudi.

BANGSA INDONESIA merayakan emansipasi perempuan pada 21 April, hari kelahiran RA Kartini. Sayangnya bangsa Italia tak merayakan hal serupa pada 11 November, hari kelahiran Maria Teresa de Filippis. Ia telah mendobrak stereotipe tentang wanita yang melekat di era 1950-an.

Maria Teresa de Filippis merupakan perempuan mungil dan independen. Banyak pria yang meragukan kemampuannya di belakang kemudi, termasuk ketiga kakak laki-lakinya sendiri. Mereka mengatakan bahwa de Filippis tak akan bisa kencang. Mereka menantangnya untuk ikut balapan dan bertaruh kalau De Filippis akan kalah. Ia termakan ajakan itu dan mengikuti balapan sepanjang 10 km dari Salerno ke Cava de’ Tirreni, Italia pada 1948 di usia 22 tahun.

Dengan tunggangan Fiat 500, de Filippis menang balapan. Ia terus ikut balapan di kejuaraan sportscar Italia yang menantang – Mille Miglia, Pescara 12 Hours dan lainnya – dengan berbagai mobil, mulai dari Urania yang menggunakan mesin motor BMW, Giaur-Fiat 750 cc, sampai OSCA 1100 cc. Performa de Filippis mengagumkan dan ia berhasil finish kedua pada musim 1954.

Luigi Musso – pembalap Maserati sukses saat itu yang kemudian bergabung dengan Scuderia Ferrari – melihat potensinya. Ia berhasil membujuknya agar “naik kelas” ke Maserati dua-liter untuk musim 1955. De Filippis kembali menunjukkan taringnya dengan finish kedua pada support race di GP Napoli meski start dari belakang.

De Filippis terlibat di Formula 1 selama dua musim sekaligus menjadi pembalap wanita pertama di puncak motorsport tersebut. Ia mengalawinya di GP Monaco 1958 sebagai privateer dengan tunggangan Maserati 250F. Dari 31 peserta, setengahnya gagal masuk kualifikasi termasuk de Filippis. Sepanjang musim 1958, ia tak cukup kompetitif dan hanya finish sekali tanpa poin di GP Belgia. Meski begitu, de Filippis punya nyali besar. Juan Manuel Fangio – pemegang lima gelar F1 – banyak memberi masukan dan salah satunya adalah, “You go too fast, you take too many risks.

Fangio merupakan sedikit dari pria yang percaya akan potensinya, walau sebagian besar orang tak mengatakan secara terang-terangan. Kejadian yang paling memukul berlangsung di GP Prancis 1958 ketika race director berkata, “The only helmet a woman should wear is the one at the hairdresser’s.” Ia dilarang balapan di sana hanya karena menjadi perempuan.

De Filippis memutuskan untuk meninggalkan balapan pada 1959 ketika melihat teman-temannya tewas, termasuk Musso dan Jean Behra, pemilik tim Maserati.

MIRAH PERTIWI