Beranda Features TWTW: Car Chase Movies

TWTW: Car Chase Movies

Steve McQueen dalam film Bullit (1968)

Sejak 2001, film Fast and Furious sudah diproduksi sebanyak delapan sekuel sampai 2017. Rencananya akan ada sekuel kesembilan pada 2020. Kedelapan film ini telah meraup total pendapatan kotor lebih dari US$ 5 miliar atau setara dengan Rp 70,5 triliun! Daya tarik dari Fast and Furious bukanlah akting  para pemerannya yang layak masuk nominasi Oscar. Bintang dari film ini sesungguhnya adalah mobil-mobil kencang yang saling kejar-kejaran dengan aksi yang menegangkan.

Fast and Furious merupakan hasil evolusi dari car chase dalam dunia perfilman. Film pertama yang menawarkan adegan kejar-kejaran mobil dimulai sejak Runaway Match atau Marriage by Motor pada 1903, 18 tahun sejak Karl Benz membangun mobil pertamanya pada 1885. Jika dibandingkan dengan tontonan modern, cerita film bisu itu begitu sederhana. Seorang pria menjemput kekasihnya di rumah ayahnya yang kaya dengan mobil untuk kawin lari. Sang ayah marah dan mengejar mereka, juga dengan mobil. Karena kendaraannya rusak, ayahnya tiba terlambat untuk membatalkan perkawinan dan harus menerima menantu barunya itu.

Adegan car chase dalam film bisu berkembang, terutama dengan munculnya Sherlock Jr pada 1924 yang dibintangi Bustor Keaton. Film yang melibatkan aksi mobil, kereta dan motor itu dianggap inovatif pada masanya. Pengambilan adegan ketika mobil sang tokoh menyeberangi rel dan hampir tertabrak kereta api sebenarnya dibuat mundur demi keselamatan aktor.

Car chase movie modern yang revolusioner pertama adalah Bullitt. Film yang diproduksi pada 1968 tersebut menawarkan adegan kejar-kejaran mobil sepanjang 10 menit – lebih lama dan lebih kencang dari film-film sebelumnya. Selain itu, pengambilan gambar juga dilakukan dari dalam kabin mobil sehingga penonton merasa seperti penumpang di sana. Bahkan sebagian besar adegan berbahaya menampilkan sang bintang, Steve McQueen, berada di balik kemudi.

Jika lokasi aksi Bullitt dilakukan di jalan yang sudah disteril, The French Connection (1971) lebih ekstrem lagi. Film pemenang Academy Awards tersebut mengambil lokasi car chase di jalanan New York yang padat. Sebagian besar adegan tabrakan memang benar terjadi, bukan hasil special effect.

Jaman telah berubah. Teknologi berkembang pesat. Kini blue screen memegang peranan penting dalam dunia perfilman. Meski begitu, adegan tetap terasa real dan tak mengurangi keseruan film. Selama ada mobil keren dan aksi kejar-kejaran, we’ll be fine.

MIRAH PERTIWI

Kolom Komentar



latest updates

TEST DRIVE: Lamborghini Urus, Historical Callings

LAMBORGHINI URUS sudah merencanakan model line ketiga sejak lama. Pada tahun 1970-an, Lamborghini pernah memperkenalkan kendaraan SUV yang disebut Cheetah...

Striker Honda Brio Edisi Khusus IMX 2018, Cuma Rp 2 Juta

JAKARTA, 17 November 2018 – Honda ikut hadir di ajang Indonesia Modification Expo (IMX) 2018 yang berlangsung Sabtu dan Minggu,...

BMW Seri 5 M Performance Diluncurkan di BIMMERFEST Semarang

SEMARANG, 18 November 2018 -- Para pecinta BMW seluruh Indonesia kembali berkumpul dalam ajang tahunan yaitu BIMMERFEST di Semarang. Tahun ini...

43 Pereli Papan Atas Tanah Air Bertarung di Kejurnas Reli Medan

MEDAN, 18 November 2018 – Ajang Kejurnas Reli 2018 putaran dua dan tiga yang digelar di kawasan perkebunan Rambong Sialang, Sumatera Utara, pada Sabtu...

Honda Civic Type R Pemenang Diecast Custom Competition Hadir di IMX 2018

JAKARTA, 17 November 2018 -- Honda menampilkan sebuah Civic Type R dengan stiker bodi di ajang Indonesia Modification Expo (IMX)...