Beranda EDITOR'S PICKS Ronaldo ke Juventus Ancam Posisi Raikkonen di Ferrari

Ronaldo ke Juventus Ancam Posisi Raikkonen di Ferrari

MARANELLO, 12 Juli 2018 – Dunia sepak bola baru saja dihebohkan dengan resminya perpindahan Cristiano Ronaldo ke klub Juventus, untuk musim kompetisi 2018-2019. Nilai transfer yang fantastis untuk pemain Portugal itu bisa bergabung dari Real Madrid ke Juventus telah secara tidak langsung menimbulkan dampak ke industri otomotif.

Kepindahan Ronaldo diumumkan Selasa (10/7/2018) setelah ia sepakat dengan kontrak untuk pindah ke Juventus dengan nilai transfer 105 juta Euro atau lebih dari Rp 1,7 triliun. Juventus sendiri adalah anggota dari keluarga besar Fiat Chrysler Automobile (FCA), yang juga disponsori oleh Fiat.

Belakangan ini ramai dikabarkan bahwa nilai transfer Ronaldo untuk hijrah dari Real Madrid ke Juventus telah membuat geram karyawan pabrik Fiat, karena akan membuat banyak uang perusahaan digunakan untuk membayar pemain berpaspor Portugal tersebut. Pasalnya, karyawan Fiat belum mendapat kenaikan gaji selama 10 tahun terakhir.

Nilai transfer Ronaldo tersebut adalah yang terbesar sepanjang sejarah Juventus yang berlaga di Serie A Liga Italia. Bahkan dikabarkan akan menyusul sponsorship dari Fiat untuk menjadikannya sebagai brand ambassador, yang semakin menambah kekesalan karyawan Fiat.

Namun dampak transfer Ronaldo selain di pihak karyawan pabrik Fiat, kemungkinan besar juga bisa mempengaruhi divisi balap yang telah lama dimiliki Fiat, yakni Scuderia Ferrari di Formula 1. Potensi perubahan besar di Ferrari bisa terjadi untuk musim balap 2019.

Posisi Kimi Raikkonen sebagai pembalap utama Ferrari saat ini bisa jadi semakin terancam untuk bisa bertahan musim depan. Gaji Raikkonen yang termasuk salah satu termahal di F1 saat ini, kemungkinan akan dipertimbangkan ulang oleh Ferrari, mengingat keuangan FCA telah terkuras banyak untuk mendatangkan Ronaldo.

Saat ini Raikkonen terikat kontrak dengan Ferrari sampai akhir tahun, dengan gaji senilai $ 7 juta (setara Rp 100,6 miliar), belum termasuk bonus berdasarkan prestasi dengan nilai maksimal $ 10 juta (setara Rp 143,7 miliar). Tidak hanya soal gaji, prestasi Raikkonen belakangan ini juga menjadi pertimbangan lain bagi Ferrari.

Sejak bergabung kembali ke Ferrari di tahun 2014, belum sekalipun Raikkonen meraih kemenangan, dengan statusnya sebagai juara dunia terakhir dari Ferrari. Bertolak belakang jika dibandingkan dengan Sebastian Vettel, rekan setimnya, yang kini telah dua kali terlibat perebutan gelar juara dunia sejak 2015.

Semakin tersudut posisi Raikkonen dengan bersinarnya performa Charles Leclerc, rookie didikan Ferrari yang kini membela tim Alfa Romeo Sauber. Pada 5 seri dari 10 seri yang telah berlangsung musim ini, Leclerc sukses meraih poin dengan mobil yang kurang kompetitif, serta unggul dari rekan setimnya yang lebih berpengalaman, Marcus Ericsson.

Ferrari bahkan semakin tergoda untuk menarik Leclerc tahun depan, setelah mengurungkan niat merekrut Daniel Ricciardo dari Red Bull Racing, karena pertimbangan gaji yang akan sangat mahal bila diduetkan dengan Vettel. Gaji Vettel di Ferrari saat ini sendiri telah mencapai $ 30 juta per tahun, dengan kontrak hingga 2020.

Raikkonen saat ini telah menjadi pembalap tertua di F1 dengan usia 38 tahun, dan tengah menempati posisi ketiga di klasemen pembalap sementara. Pada 6 dari 10 balapan digelar musim ini, pembalap dengan julukan The Iceman itu telah berhasil meraih finish di podium.

Nah, bagaimana kelanjutannya? Kita tunggu saja.

WAHYU HARIANTONO