Beranda EDITOR'S PICKS FEATURE: Car Features on Users View

FEATURE: Car Features on Users View

Tak bisa dipungkiri, fitur mobil semakin canggih dan memudahkan penggunanya. Tapi apakah sesuai dengan kondisi di tanah air?

Pada Paris Motor Show tahun ini, Matthias Müller CEO Volkswagen Group mengatakan mereka akan fokus pada mobil-mobil yang ditujukan untuk generasi Millenial. Kami percaya, pabrikan lain pun memiliki strategi serupa. Mereka semua menyasar generasi yang memiliki banyak nama: Internet generation, iGen, Net generation, you name it. Seperti namanya, mereka terlahir di era ketika internet dan gadget sudah menjadi makanan sehari-hari. Kondisi seperti ini membentuk karakter berbeda jika dibandingkan generasi lain. Mereka tech savvy, connected melalui media sosial, serta well-informed sehingga meningkatkan kecenderungan untuk tak loyal pada satu brand.

Berdasarkan karakter-karakter seperti itu, maka wajar saja jika pabrikan-pabrikan mobil berlomba-lomba memberikan fitur-fitur berlimpah. Hal ini diperkuat oleh laporan yang dilansir PwC, sebuah perusahaan konsultan strategi berbasis di Inggris. Dalam beberapa tahun ke depan, kecenderungannya akan lebih banyak manufaktur yang menawarkan fitur pilihan, terdiri dari safety (driver assistance, lane management), autonomous (adaptive cruise control, self-parking), dan konektivitas.

PwC tak sembarangan dalam membuat laporan. Kecenderungan tersebut berdasarkan research tren di dunia otomotif dunia. Jika diperhatikan, sebagian besar mobil-mobil sekarang menawarkan fitur-fitur canggih yang hanya terdapat pada kendaraan premium pada lima sampai 10 tahun lalu. Lihat saja touch screen, parking sensor, atau sistem infotainment yang bisa dihubungkan dengan gadget. Tak hanya itu, beberapa manufaktur otomotif – seperti yang dilakukan Ford tahun ini – mulai mengalihkan ajang promosi mereka dari motor show ke pameran alat elektronik dan gadget bertaraf internasional seperti Consumer Electronic Show (CES) dan Mobile World Congress.

Kencenderungan penggunaan fitur berlimpah pada produk mobil juga terbawa ke tanah air. Pertanyaan besarnya adalah, apakah semua fitur-fitur tersebut bermanfaat bagi pengguna di Indonesia? Perlu diingat, sebagian besar fitur mobil yang berada di sini berasal dan dikembangkan di luar Indonesia. Padahal negara ini, khususnya di kota besar, memiliki kondisi jalan, lalu lintas dan karakter pengguna jalan yang unik.

Maya Aprilia, pemilik All New Mazda2, mengaku terganggu dengan Smart City Brake Support (SCBS) yang merupakan salah satu dari begitu banyak perangkat safety di hatchback tersebut. Fitur ini menggunakan infra merah untuk mengukur jarak dengan kendaraan di depan saat lalu lintas padat merayap. Jika jarak mobil dengan obyek di depannya terlalu dekat, maka sistem langsung mengaktifkan rem tanpa input dari pengemudi. Tapi jika melihat kondisi jalan di kota besar seperti Jakarta, tak sedikit pengemudi motor yang menyalip di antara mobil-mobil yang sedang mengantri saat lalu lintas sedang padat. Hal ini menyebabkan SCBS aktif. Alhasil, mobil berhenti mendadak.

“Saya tipe orang yang mengutamakan safety. Buat saya, fitur itu membahayakan. Beberapa kali ketika saya sedang nyetir, mobil berhenti mendadak tanpa saya rem. Bagaimana kalau ada motor di belakang yang sedang ngebut? Kan bahaya,” jelas Maya. Tapi di luar itu, ia mengaku puas dengan fitur-fitur lain All New Mazda2.

Lain lagi dengan Andryasto Joyosuyono. Pemilik Mini R56 Green Park Edition 2013 ini mengaku, “Jalur saya sehari-hari selalu macet. Jadi saya sangat jarang menggunakan fitur [pengemudian] Sport Mode.” Meski begitu, Andry merasa sangat terbantu dengan fitur infotainment terutama Bluetooth yang terkoneksi dengan smartphone-nya. “Saya bisa selalu update kerjaan dan terima telepon tanpa harus takut nabrak,” tambahnya.

Sementara itu Sulthan Alatas yang juga memiliki Mini R56 tapi tipe Cooper S menyatakan ia sangat jarang menggunakan fitur cruise control. “Jalanan di Jakarta sering macet. Jadi lebih sering stop and go,” jelasnya. Memang, cruise control akan efektif jika kondisi jalan sedang lengang. Pasalnya fitur itu berfungsi untuk mengambil alih gas dari pengemudi agar mobil berjalan dalam kecepatan yang stabil.

Hal serupa juga diucapkan oleh Hakim Putratama. Pria yang memiliki BMW 3 Series 2015 ini juga tak menggunakan cruise control dengan alasan yang sama dengan Sulthan. Tak hanya itu, ia juga mengaku hampir tak pernah memakai voice command. “Selama tak tersedia pilihan dalam bahasa Indonesia, fitur itu tak berguna di sini,” katanya. Memang, kita yang memiliki mother tongue di luar bahasa Inggris tentunya memiliki aksen. Voice command tak cukup sensitif untuk bisa membaca perintah suara seperti itu.

The world belongs to those who embrace the future. Tak bisa dipungkiri, sophisticated features  merupakan langkah menuju masa depan. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan. Berangkat dari tujuan itu, maka para manufaktur perlu melihat kebutuhan konsumennya sesuai dengan lingkungannya to ensure no feature go to waste.

MIRAH PERTIWI

Kolom Komentar



latest updates

Mazda Tingkatkan Tenaga MX-5 Terbaru

JAKARTA, 21 Oktober 2018 -- PT Eurokars Mazda Indonesia (EMI) tidak hanya menghadirkan CX-9 terbaru, tapi juga meluncurkan MX-5 terbaru....

Mazda CX-9 Punya Belbagai Pembaharuan Fitur

JAKARTA, 21 Oktober 2018 - PT Eurokars Mazda Indonesia (EMI) meluncurkan Mazda CX-9 dan Mazda MX-5 Miata terbaru dalam ajang Mazda Power Drive 2018...

Jeep Grand Commander 2019, Back For More

GENERASI pertama Grand Commander diperkenalkan pada tahun 2005, dikembangkan untuk konsumen yang menginginkan SUV dengan jok tiga baris namun hanya...

Tambah Berat, Ini Kunci All-New Honda Brio Tetap Irit

JAKARTA, 21 Oktober 2018 – All-New Honda Brio telah mengalami banyak perubahan mulai dari desain sampai dimensinya yang lebih besar...

Mazda Power Drive 2018 Tampilkan MX-5 Miata dan CX-9 Baru

JAKARTA, 20 Oktober 2018 - Mazda Indonesia melalui distributor mereka PT. Eurokars Motor Indonesia (EMI), menyelenggrakan event besar sebagai tanda...