Beranda EDITOR'S PICKS EDITOR’S NOTE: Balapan Formula E di Jakarta, Antara Harapan dan Kenyataan

EDITOR’S NOTE: Balapan Formula E di Jakarta, Antara Harapan dan Kenyataan

JAKARTA, 16 Juli 2019 – Jagat motorsport Indonesia cukup gempar dalam 4 hari terakhir gara-gara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam postingan di media sosial menyampaikan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah balapan single seater Formula E pada tahun 2020 mendatang.

Penulis pertama kali mendapatkan kabar ini dari akun Anies Baswedan di Facebook. Lantas informasi tersebut dikutip media massa. Kabar ini juga menjadi obrolan hangat di grup-grup WA otomotif dan para pecinta motorsport tanah air.

Penulis sih bilang, Alhamdulilah jika kabar itu benar dan terealisasi. Pasalnya dunia motorsport bisa menjadi advertisement yang menarik bagi kota Jakarta. Balapan Formula E bisa menjadi salah satu iklan pariwisata powerfull di dunia.

Apalagi Formula E sebagai balapan baru merupakan balapan ‘hijau’ alias ramah lingkungan. Balapan ini baru lahir tahun 2014 dan seluruh mobil yang dipakai adalah mobil balap listrik. Berbeda dengan balapan single seater lain yang masih memakai mesin konvensional.

Menurut penulis, sebagai balapan hijau balapan ini bisa dijadikan sebagai bagian dari kampanye ‘udara bersih’ kota Jakarta. Pasalnya, mengutip website www.kompas.com tanggal 25 Juni 2019, bahwa berdasarkan pemantauan AirVisual, polusi udara di kota Jakarta tergolong yang terburuk di di dunia. Udara Jakarta masuk kategori unhealthy atau tidak sehat. Formula E bisa dijadikan alat mendorong program pemerintah menurunkan tingkat polusi ke titik terendah.

Foto: akun facebook Anies Baswedan

MOBIL LISTRIK

Kalau kita kaitkan dengan plan besar pemerintah Indonesia bahwa pada tahun 2025 nanti 20 persen kendaraan yang lalu-lalang di Indonesia adalah mobil listrik, balapan ini bisa dihubungkan dengan prorgam itu. Plan itu diungkapkan sendiri oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto kepada media.

Balapan Formula E bisa dijadikan simbolisasi dari kampanye udara bersih dan daerah perkotaan modern yang ramah lingkungan. Kampanye untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang bersih dan indah. Teristimewanya, trend industri kendaraan bermotor di masa depan adalah kendaraan yang ramah lingkungan dengan emisi gas karbon yang rendah, bahkan zero. Pilihannya bisa mobil listrik, hybrid atau pun plug-in hybrid.

Namun harus diingat, simbolisasi saja tidak cukup. Harus ada gerakan nyata dari kampanye itu. Maksud penulis begini, motorsport adalah olahraga yang mahal apapun itu bentuknya, perbedaannya hanya di level saja. Memang Formula E bukanlah balapan selevel dengan F1 – untuk saat ini – karena ragam alasan, namun Ia diproyeksikan akan sebesar F1 di masa mendatang mengingat trend dunia akan berubah. Balapan F1 saja berubah kok dalam konteks mesin yang dipakai. Kalau Formula E cuma dijadikan simbol, tanpa ada tindakan nyata, ya sama saja bohong.

Balapan street circuits sendiri sudah menjadi hal yang lumrah, apalagi untuk Formula E, di mana pada musim 2018 – 2019 sudah diselenggarakan di Bern Street Circuit, Swiss, Brooklyn Street Circuit (AS), Hong Kong dan Arab Saudi. Balapannya tak akan bising karena yang dipakai mobil listrik. Raungan mesin jauh lebih halus dan lembut daripada balapan mesin konvensional yang meraung menggelegar serta kasar.

Balapan Formula E di Hong Kong. Foto: www.scmp.com

BIAYA

Yang harus dipikirkan adalah biaya untuk menyelenggarakan balapan itu. Contohnya adalah F1. Untuk menyelenggarakan satu kali balapan F1 alias per grand prix bisa memakan biaya US$ 100 – 130 juta. Atau lebih dari Rp 1 Trilyun per grand prix. Pada tahun 2012 saja, Second Minister for Trade and Industry Singapura S. Iswaran melaporkan kepada Parlemen bahwa untuk menyelenggarakan satu kali balapan F1 di negeri kecil itu memakan biaya sekitar US$ 150 juta. Penyelenggaraan di Singapura mungkin lebih mahal karena balapan diselenggarakan pada malam hari.

Menurut laporan www.cbc.ca pada Juni 2017, Kota Montreal, Kanada, harus merogoh kocek sebesar US$ 24 juta untuk menjadi tuan rumah Formula E. Kabarnya kocek itu dirogoh dari kantung Pemda setempat dan sponsor. Tapi ada juga Pemda kota dunia yang tidak merogoh biaya dari para pembayar pajak seperti New York, Paris, Berlin. Balapannya dibiayai oleh penyelenggara dan sponsorships, termasuk biaya untuk pengaspalan jalan rute Formula E agar memenuhi standar balapan.

Nah yang jadi pertanyaan adalah apakah ada sponsorship dan penyelenggara yang mau menanggung biaya penyelenggaraan sebesar US$ 24 – 30 juta per satu kali balapan (grand prix) di Jakarta? Seperti diketahui gelar balapan besar selevel Formula E, F1 dan lain-lain – khususnya di negara berkembang – harus ada campur tangan negara, biayanya  ditanggung negara atau pemerintah. Lihat saja balapan F1 di Malaysia, Vietnam dan Azerbaijan.

Kita sih sebagai orang otomotif dan pecinta motorsport senang-senang saja ada balapan bertaraf international – apalagi single seater – digelar di Jakarta. ‘Selangkah’ saja keluar rumah sudah lihat sirkuit. Tapi jangan sampai balapan itu cuma diselenggarakan satu kali, setelah itu tutup. Tak ada lagi. Atau bahkan cuma wacana karena ada motif tertentu.

Indonesia sudah sering menjadi tuan rumah balapan bertaraf internasional, bertempat di Sirkuit Sentul, seperti balapan A1GP. Indonesia bahkan pernah hampir menggelar balapan A1 GP di sirkuit jalan raya di Lippo Karawaci tapi tak jadi.

Indonesia juga sudah berapa kali  dihembuskan bakal menjadi tuan rumah F1 dan MotoGP dengan membangun sirkuit di Bali dan yang terakhir kali bakal dibangun sirkuit di Pantai Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tapi sirkuitnya belum nongol juga.

Indonesia juga punya pembalap-pembalap single seater berbakat seperti Rio Haryanto, yang pernah balapan di F1 dan Sean Gelael, yang sekarang balapan di F2 yakni ajang balap yang setingkat di bawah F1.

Jangan sampai karena hanya dipakai satu kali balapan, besi-besi grand stand, pilar-pilar besi bangunan garasi dan pit lane, tembok-tembok pembatas serta Armco hanya menjadi besi-besi tua teronggok berkarat.

EKA ZULKARNAIN

Video Terbaru Youtube Carvaganza