Beranda Drives The Habitat of Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4

The Habitat of Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4

SETELAH menempuh perjalanan panjang Kami tiba di kota Wonosobo sore hari. Seberapa pun menyenangkannya perjalanan selama lebih dari 8 jam dari Jakarta dengan Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4, tubuh kami berteriak minta istirahat. Lagi pula, kami perlu menyusun rencana petualangan berikutnya untuk menjelajah keindahan alam kabupaten Wonosobo.

Keesokan harinya kami sengaja bangun dini hari demi mengejar matahari terbit di Bukit Sikunir, Dieng, dengan ketinggian lebih dari 2.300 m di atas permukaan laut. Letaknya di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Jawa Tengah. Perjalanan dari kota Wonosobo ke sana berjarak sekitar 18 km tapi memakan waktu hampir satu jam. Pasalnya kami melewati berbagai jalanan sempit dan berliku dengan beberapa truk yang mengangkut komoditas untuk dijual di pasar sebagai teman seperjalanan. Dan tentunya kami juga harus melewati pasar yang ramai.

Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4 berdimensi besar (4.785 x 1.815 x 1.805 mm) dan itulah yang membuat kabinnya lega. Meski begitu, kami tak merasa mengemudikan mobil besar karena visibilitas mumpuni dari jok pengemudi yang dilengkapi pengaturan elektrik. Itu yang membuat kami lebih percaya diri saat menyelip di antara truk-truk besar yang parkir di kiri-kanan jalan. Dan adanya fitur Forward Collision Mitigation System (FCM) yang secara otomatis melakukan pengereman saat mendeteksi ada objek di depannya sangat membantu.

Begitu melewati pasar, kami lanjut melesat di Jalan Dieng. Matahari masih enggan untuk menyinari pepohonan Dieng. Dalam kegelapan, beberapa kendaraan menyalip kami dengan cahaya lampu mereka yang redup. Untungnya Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4 memiliki Blind Spot Warning (BSW) yang memberikan kami peringatan di kaca spion akan kendaraan yang berada dalam radius 3 meter di sekitar mobil. Fitur ini sangat membantu kami melakukan antisipasi saat disalip maupun menyalip.

Jalanan semakin menantang saat mendekati Bukit Sikunir, menyempit dan semakin menanjak dengan beberapa tikungan tajam. Hujan yang mengguyur wilayah itu pada malam sebelumnya membuat permukaan jalan sangat licin. Awalnya kami khawatir Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4 tergelincir. Tapi ternyata mobil ini cukup pintar. Secara otomatis ia mengendalikan kecepatannya berkat Active Stability & Traction Control (ASTC). Tanpa kendala, kami sampai di tujuan sebelum matahari terbit.

Masalah baru muncul setelah kami parkir di tepi Telaga Cebong. Untuk menuju puncak Bukit Sikunir, kami harus berjalan kaki sejauh 600 meter dengan medan yang terjal. Hanya dalam 200 meter pertama, kami menyesal telah melahap makanan tak sehat dan melewatkan waktu olahraga dalam beberapa bulan terakhir. Nafas kami memburu tak karuan. Temperatur 11 derajat Celsius yang tadinya menusuk kulit tak lagi terasa. Kami memaksa diri dan membujuk kaki kami yang mulai bergetar untuk terus berjuang sampai ke puncak. Tanpa henti kami berkhayal andai bisa mengemudikan Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4 yang tangguh ke puncak sehingga bisa terhindar dari petualangan fisik ini.

Sesampainya di atas, semua canda gurau hilang. Masing-masing dari kami mengumpulkan nafas yang memudar dalam 600 meter terakhir. Tapi semua siksaan itu terbayarkan. Cahaya jingga pertama hari itu yang menyinari hijaunya pepohonan Bukit Sikunir begitu indah, tak terlukiskan dengan kata-kata. Pemandangan itu mengisi ulang energi kami yang terkuras.

Kami sudah melakukan perjalanan sejauh ini. Rasanya sayang jika tak menjelajah daerah ini sebelum kembali ke kota. Lagipula kami ditemani Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4, tak ada tempat yang tak terjangkau. Kami kembali melewati jalan sempit dan berliku menuju Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di area Dieng Plateau Theater. Kami seperti berada di lembah rahasia, dikelilingi tebing hijau bagaikan rumah para peri. Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4 terlihat kontras dengan pemandangan sekeliling. Tapi kami merasa memang inilah habitatnya. Lihat saja eksteriornya yang maskulin tetapi dinamis serta kemampuannya menaklukkan medan berat berbekal mesin diesel 2.4 liter, turbocharged dan intercooled, yang mampu menyemburkan tenaga 181 PS dan torsi 430 Nm.

Setelah puas, kami kembali ke kota Wonosobo. Kami melintasi rute yang sama saat berangkat, hanya saja kali ini kondisinya menurun. Jalanan sudah mulai ramai, tapi hal ini bukan masalah. Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4 sudah dilengkapi fitur Hill Descent Control (HDC) mencegah kami meluncur turun.

Kami tiba di penginapan dengan setengah puas. Pasalnya jalan yang kami lalui hari ini kurang menantang kemampuan Mitsubishi PAJERO SPORT Dakar 4×4. Maka kami merencanakan petualangan itu keesokan harinya.

MIRAH PERTIWI