Beranda Drives Test Drive Mini Cooper 3-Door: Bikin Syuur

Test Drive Mini Cooper 3-Door: Bikin Syuur

[pro_ad_display_adzone id="54185"]

JAKARTA, 15 November 2018 – Kalau bicara soal MINI, kita bicara soal kenikmatan handling. Dan jangan lupa menulis MINI sekarang pakai huruf kapital semua, bukan Mini. Begitulah feeling yang Carvaganza rasakan ketika mencoba New Mini Cooper 3-Door 2018 di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) pada Selasa (13/11) kemarin.

Menurut saya, mengemudikan MINI tidak membosankan. Selalu ada sensasi pada setiap putaran setirnya, hentakan suspensi dan kekerasan chassisnya. Orang bilang, suspensi MINI terlalu keras, setirnya liar dan mobilnya berkarakter agresif kalau dibawa kencang. Memang iya, sensasi driving yang ditawarkan MINI lebih dinamis dibandingkan dengan dengan saudara sepayungnya, BMW.

Kalau Anda mencari kenyamanan di MINI ingin seindah mobil mewah seperti yang lain, tidak akan ketemu. Kalau Anda mau yang seperti itu, sebaiknya memilih sedan BMW atau SUV-nya. Tapi kalau ingin mencari sensasi mengemudi yang enak dan menyenangkan, ya di sini. Namun jangan bilang MINI tak nyaman.

Anda akan merasakan handling-nya yang liar seperti mobil gokart. Tajam, akurat dan agresif. MINI Cooper 3-Door yang penulis coba juga seperti itu. Sebetulnya ada tida tipe MINI yang dicoba saat sesi di BSD, yaitu MINI Cooper 3-Door (juga tersedia versi S), MINI Cooper S Cabriolet dan MINI Cooper Countryman (juga versi S). Total ada 5 mobil yang disediakan oleh MINI Indonesia. Karena keterbatasan waktu dan media yang ikut serta, saya hanya kebagian MINI Cooper 3-Door saja.

Hatchback dua pintu ini diperkuat oleh mesin 3 silinder twin-power turbo 1.5L yang menghasilkan tenaga 136 hp dan torsi 220 Nm. Tenaga yang dihasilkan itu disalurkan ke roda depan oleh transmisi 7-kecepatan Steptronic. Nah yang versi MINI Cooper S 3-Door dilengkapi mesin yang lebih kuat yakni 4 silinder twin-power turbo 1998 CC (2.0L) menyemburkan tenaga 192 hp dan torsi maksimal 280 Nm. Mungkin di lain kesempatan kami akan ceritakan rasanya driving MINI Cooper S 3-Door.

Dengan bodi yang kecil mungkin Anda akan mengira akses masuk ke kabinnya susah. Nope. Penulis dengan tinggi badan 167 cm, merasa gampang. Namun kalau ingin ke jok belakang memang agak susah dan jok belakang di 3-Door memang agak sempit.

Layout kabin sangat menarik, sporty, solid dan dinamis dengan display bulat di tengah dashboard. Display ini memuat ragam informasi tentang mobil dan juga sebagai bagian dari sistem infotainment kendaraan. Dari perspektif pengemudi, MINI seolah-oleh memperkuat personal statement penggunanya. Setirnya dilengkapi dengan sejumlah tombol pengaturan multi-fungsi, seperti tombol pengaturan radio, tombol sambungan telpon, speed limit dan lain-lain.

Cluster meternya dibentuk solid dan sporty yang tidak akan Anda temukan pada mobil manapun. Warna cluster meter bisa berubah-ubah sesuai dengan mode pengendaraan yang dipilih. Kalau Anda memilih Green (Eco), Ia akan memendarkan warna hijau, kalau memilih Sport akan memendarkan warna merah. Dan Mode Mild akan memendarkan warna yang lain.

Jok pengemudi dan penumpang depan memiliki layout semi bucket mengombinasikan pemakaian kulit berkualitas dengan fabric. Nah tombol pengaturan mode pengendaraan menggunakan bentuk switch toggle begitu juga dengan tombol start/stop.

Ketika mesin dinyalakan, keluar suara khas MINI seperti geraman menggerutu yang terdengar halus. Beri tekanan gas pada saat idle, gerutuan akan semakin mengeras. Mesinnya terasa halus, lantas posisikan transmisi otomatis 7-kecepatan Steptronic pada D dan mode pengendaraan pada Green. Perpindahan giginya pun terasa lembut baik pada saat naik maupun turun, tapi pada mode ini mesin tidak terlalu responsif. Lebih cocok pada kondisi traffic yang padat karena akan terasa lebih nyaman. Setirnya terasa ringan dan komunikatif dan memberikan feedback yang tepat dari setiap kondisi jalan yang dilewati sehingga pengemudi dapat memberikan input yang akurat.

Pada Mode Normal (Mild), baru agak terasa kerja transmisi yang lebih cepat. Kalau sensasinya ingin dinaikkan, pakai mode manual dan turunkan dengan tuas transmisi di kiri. Mesin akan menggeram lebih keras pada saat naik gigi. Setelah itu nikmati handling MINI yang tajam baik pada saat manuver maupun di tikungan. Saya lebih suka kalau mencoba MINI di kawasan Puncak, bodinya yang ringkas bin kompak membuat Anda tergila-gila pada perilakunya.

Pindahkan ke Sport, maka perilaku mobil akan lebih tajam lagi. Setirnya menjadi lebih berat namun komunikatif dan suspensi menjadi lebih keras, chassis pun terasa lebih stiff. Mobil menjadi lebih stabil dan mencengkeram aspal pada saat Anda memacunya di trek lurus. Suara raungan mesin yang lebih keras.

Sesi di BSD memang terlalu singkat, namun impresi yang dihasilkan dari MINI cukup menggugah passion.

EKA ZULKARNAIN

Kolom Komentar



latest updates

Menang Kompetisi, Shell Ajak Mahasiswa ITS Kunjungi Markas Scuderia Ferrari

JAKARTA, 17 Desember 2018 – Indonesia berhasil menjadi juara pada ajang Shell Eco-marathon Drivers’ World Championship (DWC) 2018, melalui perwakilan...

Teknisi Nissan Indonesia Raih Medali Perak di World Skill Asia 2018

JAKARTA, 17 Desember 2018 – Teknisi Nissan Indonesia, Mustaqim, berhasil meraih medali perak di ajang kompetisi World Skill Asia 2018 yang diselenggarakan...

Habiskan Rp 202 Miliar, Auto2000 Resmikan 6 Cabang di Pulau Sumatera

JAKARTA, 17 Desember 2018 – Auto2000, dealer terbesar penjualan Toyota, terus melebarkan sayap jaringan penjualan dan servisnya. Hari ini, Senin...

Komponen Bermasalah, Suzuki Recall 19.926 Unit Carry

JAKARTA, 17 Desember 2018 – PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) menggelar program perbaikan atau Suzuki Product Quality Update. Program ini...

Ini Pembalap yang Jadi Inspirasi Nama Bugatti Divo

SEPERTI nama Bugatti Veyron dan Chiron, nama Bugatti Divo juga diambil dari nama pembalap. Yaitu pembalap Prancis Albert Divo yang...