Beranda Drives TEST DRIVE: Mercedes-Benz GLA 200 AMG Line, Handlingnya Mantap

TEST DRIVE: Mercedes-Benz GLA 200 AMG Line, Handlingnya Mantap

YOGYAKARTA, 24 September 2018 – PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBI) mengajak beberapa media termasuk Carvaganza mencoba model terbaru dari Mercy yang dipasarkan di Indonesia yaitu Mercedes-Benz GLA 200 AMG Line di daerah Yogyakarta pada hari Kamis lalu. Mobil ini masuk dalam segmen compact crossover yang diproduksi Stuttgart untuk menyaingi BMW X1 dan Audi Q3.

Mobil ini pertama kali masuk Indonesia pada Juni 2017 lalu, tapi masih versi GLA 200 ‘polos’. Sedangkan yang Carvaganza coba di Yogyakarta adalah GLA 200 dengan penambahan AMG Line. Ruhnya tidak sepenuhnya AMG karena mesinnya tidak mendapat sentuhan tuning high performance, hanya sentuhan pada eksterior dan interior saja.

PT MBI sendiri hanya memasarkan dua varian GLA di Indonesia  yakni GLA 200 AMG Line dan Mercedes-AMG GLA 45 4Matic, di mana yang terakhir hanya dipasarkan berdasarkan pesanan saja dan ruhnya memang AMG sejati.

Setibanya di Bandara Adi Sucipto kami langsung menuju Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta yang letaknya bersebelahan dengan bandara. Di sini, sudah menanti delapan unit Mercedes-Benz GLA 200 AMG Line yang siap dipacu oleh para jurnalis. Kami langsung mengarahkan crossover kompak ini menuju Pantai Ngerenehan di kawasan Gunung Kidul sekitar 2,5 jam perjalanan ke selatan Yogyakarta.

Mesinnya terasa halus yang dinyalakan dengan hanya menekan tombol di bagian belakang kemudi, tidak lagi menggunakan kunci putar khas Mercedes-Benz yang berbentuk seperti USB. Tenaga yang dihasilkan 156 hp dari mesin 4 silinder segaris 1.6 liter turbocharge terasa padat di setiap putaran, apalagi kalau kita punch pada mode pengendaraan Sport. Tendangan turbonya sudah dapat dirasakan pada putaran mesin yang rendah plus torsi maksimal 250 Nm pada rentang power 1250 – 4000 rpm.

Pada saat mengendarainya di jalanan luar kota menuju Pantai Ngerenehan saya menyeting mode pengendaraan pada Comfort dan Sport untuk melakukan penyesuaian dengan kontur jalan berliku dan menanjak. Traffic jalan pun sepi. Tak terasa ada turbo lag pada mode pengendaraan ini dan rentang tenaga yang dihasilkan pun tinggi sehingga crossover 5 penumpang ini menyenangkan dibawa tanpa ada tenaga yang hilang karena terisi di seluruh putaran.

Posisi mengemudi terasa pas, dengan pandangan luas ke depan. Anda tinggal mengatur posisi duduk secara elektrik dan jika mau tinggal disimpan di dalam memori. Tak perlu mencemaskan posisi pandangan jika melewati zona-zona blindspot yang banyak ditemui dalam perjalanan luar kota. Dimensi kendaraan terasa kompak ketika saya berada di belakang kemudi dan didukung oleh bobot kosong 1.395 kg sehingga ikut mempengaruhi feeling pengendaraan ketika melewati jalanan twisty di luar kota. Fitur hill start assist juga membantu pengemudi untuk menemukan momentum mendapatkan respon throttle karena fitur ini akan menahan mobil sekitar 4 detik pada saat berada di tanjakan. Pada saat hill start assist bekerja, memang ada perbedaan respon mesin antara mode Eco, Comfort, Sport atau pun Individual.

Transmisi otomatis 7-kecepatan dual clutch terasa cepat dan halus. Saya menyukai kerja mobil pada saat mode pengendaraan dipindahkan ke Individual di mana mode saya pakai Sport, namun steering saya posisikan di Comfort. Anda seperti memadukan keluwesan seorang pesilat dengan pukulan seorang petinju. Kerja transmisi yang responsif terasa menyenangkan bagi saya ketika melewati jalanan berkelok, lantas masuk tanjakan kemudian kembali ke  jalanan dengan tikungan-tikungan medium. Ground clearancenya yang cukup tinggi pun membuat saya percaya diri ketika harus melewati jalanan bumpy dan aspal rusak.

Setiap perpindahan mode pengendaraan memberikan feeling pengemudian yang berbeda-beda. Pada Eco, pengendaraan terasa linear di mana lontaran tenaga terasa dibatasi karena setingan mesin dituntut untuk mengefisienkan konsumsi bahan bakar. Di daerah perkotaan Yoygyakarta, saya lebih banyak memakai mode ini karena kondisi jalan yang padat sehingga tak perlu ‘menarik’ gas terlalu kencang. Tapi kalau mode ini dipakai di jalur menuju Ngerenehan terasa seperti ada yang hilang dari sebuah Mercy kompak bermesin turbo.

Ketika dipindahkan ke mode Comfort, Mercedes-Benz GLA 200 AMG Line terasa seperti kaki penari balet. Luwes dan cekatan serta terasa lugas ketika melewati winding road. Ketika dipindahkan ke mode Sport, mesin menjadi lebih responsif, kekerasan suspensi menjadi bertambah dan setir terasa lebih dinamis. Suara mesin pun menjadi lebih meraung. Saya menyukai kerja Sportny-nya yang dipadukan dengan mode manual dengan perpindahan transmisi via paddle shift. Jika Anda kelupaan untuk memindahkan transmisi pada saat memakai mode manual, transmisi akan secara otomatis memindahkan gigi baik ke gigi atas atau pun bawah.

Untuk memindahkan mode pengendaraan cukup mudah, tinggal tekan tombol di dashboard. Jika Anda ingin memilih mode Individual tinggal sesuaikan saja pilihan Anda dengan mengubah setingannya di display 8 inci.

Kehadiran panoramic roof menambah sensasi tersendiri pada kenyamanan Anda di dalam kabin GLA. Kabinnya terasa lapang dengan headroom dan legroom yang lega bagi penumpang depan. Begitu juga dengan kelapangan jok belakang. Namun bagi saya yang memiliki tinggi 167 cm, dudukan jok belakang terasa pendek sehingga agak mengganggu kenyamanan penumpang.

Kendaraan ini juga dilengkapi dengan Active Brake Assist yang akan membantu pengemudi mengerem kendaraannya jika terlalu dekat dengan kendaraan di depannya. Fitur akan terlihat aktif dengan mengeluarkan sinyal warna merah segitiga di bagian cluster meter yang menandakan bahwa mobil Anda terlalu dekat dengan mobil di depannya. Artinya Anda harus menjaga jarak agar tanda itu mati. Namun, jika Anda tidak menyadari tanda tersebut, mobil akan secara otomatis mengerem dengan pelan untuk menjaga jarak dengan mobil di depannya.

Secara paket keseluruhan, GLA 200 AMG Line terasa menyenangkan dipacu di ragam medan jalan aspal. Yang saya suka dari kendaraan ini adalah handlingnya terasa mantap sehingga menambah daya tarik pengendaraan. Bagi Anda yang menyukai perjalanan, obyektifitas handling yang didukung dengan dimensi yang kompak dan mesin yang responsif akan menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.

SPESIFIKASI

Layout kendaraan: Crossover, mesin depan, 4 pintu, 5 penumpang, FWD.
Mesin: I-4 16 valve turbocharge 1.6L/ 156 hp @5300 rpm/ 250 Nm @ 1250 – 4500 rpm.
Rasio kompresi: 10,3:1
Transmisi: A/T 7-kecepatan dual-clutch.
PxLxT: 4424 x 1804 x 1494 mm.
Wheelbase: 2699 mm.
Ground clearance: 213 mm
Bobot kosong: 1395 kg.
Kapasitas tangki BBM: 50 liter.
Rekomendasi BBM: Ron 92.

EKA ZULKARNAIN

Kolom Komentar



latest updates

Beginilah Wujud MINI Cabriolet 1993 Full Original

TANGERANG, 16 Desember 2018 -- Gaya hidup dan otomotif kerap kali berdampingan untuk menunjang penampilan pemiliknya. Seperti MINI yang selalu...

MINI Cooper Banjiri BSD City di MINI Day 2018

TANGERANG, 16 Desember 2018 -- Para pecinta MINI Cooper Indonesia akhirnya memiliki wadah untuk berkumpul dan memamerkan mobil-mobil MINI miliknya....

Ini Dia Desainer Mobil-Mobil Hotwheels

JAKARTA, 16 Desember 2018 – Bos desainer mobil-mobil Hotwheels yang kita kerap beli dan buru datang ke Indonesia hari ini Sabtu (15/12). Namanya Philip...

5 Produk Timberland yang Cocok untuk Hadiah Natal dan Tahun Baru

JAKARTA, 16 Desember 2018 – Bulan Desember kita akan merayakan Natal dan Tahun Baru. Dua hari ini kita mendapat kesempatan...

Kopdar Wrap Up 2018 Jakarta Velozity Chapter, Meriah Diselingi CSR

BSD, 16 Desember 2018 -- Jakarta Velozity Chapter (JVC) mengadakan kegiatan spesial akhir tahun bertajuk kopdar “Wrap Up” sekaligus kopdar...