Beranda Drives TEST DRIVE: McLaren Senna, Tribute to Aryton

TEST DRIVE: McLaren Senna, Tribute to Aryton

Foto-Foto: McLaren Press

HYPERCAR McLaren Senna tergolong baru karena baru diluncurkan pada akhir 2017 lalu. Namanya sendiri tak terlalu asing bagi car enthusiast maupun penggemar motorsport karena diambil dari nama pembalap asal Brasil Ayrton Senna, yang pernah memperkuat tim McLaren antara tahun 1988 sampai 1993. Bersama McLaren, Senna meraih tiga gelar juara dunia F1 dan mengoleksi 35 kali start balap. Bersama Senna, McLaren juga merebut empat gelar dunia konstruktor F1 secara berturut-turut.

Dalam hierarki McLaren, hypercar ini termasuk ke dalam kategori Ultimate Series, yang merupakan hierarki tertinggi dalam line-up supercar McLaren seperti McLaren F1 tahun 1993 dan P1 pada tahun 2013. Dalam posisinya, Senna tidak secara langsung menggantikan P1 karena tidak mengadopsi teknologi KERS atau sistem hybrid.

Hypercar ini menggunakan mesin V8 turbo yang menghasilkan tenaga 800 hp dengan berat kurang dari 1,2 ton dan dikombinasikan dengan transmisi otomatis 7-kecepatan dengan paddle shifter. Aerodinamikanya bisa menghasilkan 800 kg downforce pada kecepatan 250 km/jam. Bobotnya lebih ringan dari 720S (1.238 kg) dan P1 (1.395 kg), tapi masih kalah ringan dari McLaren F1 (1.138 kg). Pasalnya kendaraan harus memenuhi fitur keselamatan wajib seperti airbag dan harus lolos uji benturan samping dan depan yang telah menjadi mandatory sejak 1993.

Downforce aerodinamika tersebut dihasilkan dari sayap, bilah dan splitter yang bekerja secara integral sehingga menghasilkan level yang baik. McLaren Senna mungkin bukanlah McLaren yang paling seksi, tetapi dari tampang mobil ini terlihat paling liar. Sebesar 60 persen downforce dihasilkan dari desain kolong mobil, sedangkan sisanya dari splitter depan dan sayap belakang yang besar.

McLaren Senna juga memakai sejumlah elemen aktif untuk menambah atau mengurangi downforce agar drag berkurang, seperti sistem DRS yang dipakai di F1. Paket aerodinamika inilah yang secara efektif bisa menghasilkan downforce sampai 800 kg jika kecepatan mobil di atas 250 km/jam. Downforce setinggi itu tentu saja bisa menyiksa ban dan sistem suspensi sehingga downforce harus dijaga di 800 kg. Aerodinamika aktif juga memainkan peranan pada saat pengereman dan untuk memberikan keseimbangan antara downforce depan serta belaang maupun untuk handling mobil itu sendiri.

McLaren Senna tak seperti McLaren F1 yang dengan tenaga hanya 610 hp mampu mencapai kecepatan 391 km/jam karena mobil tersebut memang untuk memecahkan rekor dunia production car terkencang. Senna tidak didesain untuk memecahkan rekor kecepatan, namun memang ingin menjadi production car tercepat di sirkuit.

Handling balance McLaren Senna di tikungan-tikungan medium dan cepat netral.

Sebagian besar sirkuit di dunia sulit untuk mengakomodasi kecepatan mobil balap yang legal untuk jalan raya (street –legal car) di atas 300 km/jam jadi kecepatannya dibatasi menjadi hanya sampai 335 km/jam saja.  Karena top speed sudah ditentukan maka engineer semakin mudah dalam mengemas tenaga yang dihasilkan untuk berakselerasi dari 0 – 335 km/jam dengan didukung transmisi otomatis 7-kecepatan.

Sesi di Sirkuit Estoril, Portugal, untuk mencoba Senna sudah tiba. Saya memakai baju balap Nomex dan gear balap lainnya plus helm full face dan HANS di bawah suhu 28 derajat Celcius. Saya tak merasa tersiksa, hanya tak nyaman saja.

Kami pun diminta oleh pabrikan McLaren untuk warming-up dengan McLaren 720S terlebih dahulu dengan didampingi sejumlah instruktur yang seluruhnya adalah para pembalap professional, dan bahkan beberapa di antaranya baru balapan di Le Mans 24 Hours. Mereka mengajari kami bagaimana cara berakselerasi dan mengerem setepat mungkin. Catatan waktu yang dicapai oleh para pembalap pro dengan McLaren Senna adalah 6 detik lebih kencang daripada 720S. Lalu bagaimana dengan kami?

Kami kebagian memacu Senna sampai 12 lap yang terbagi ke dalam dua sesi. Tiga lap pertama saya berantakan dan saya fokus pada mengeksplorasi kendaraan karena kecepatannya sangat tinggi sehingga sehingga saya harus mengetahui besaran grip yang dimiliki. Pertama saya kesulitan untuk mengeksplorasi pengereman di ujung trek lurus  di mana saya harus mengerem dari kecepatan di atas 280 km/jam untuk masuk tikungan lambat pada gigi 1.

Sulit dibayangkan bagaimana harus menahan beban 2g ketika melakukan pengereman sekeras mungkin. Yang mengejutkan saya adalah grip yang dihasilkan dari pengereman begitu kuat dan ABS bekerja secara efektif.

Senna betul-betul mobil yang sensasional karena ban depannya tak pernah melebar. Keseimbangan handlingnya di tikungan-tikungan cepat dan medium netral. Pengeremannya efektif dan akurat, ketika masuk tikungan tetap stabil. Kami tak mencoba mode Comfort atau pun Sport, melainkan langsung ke mode Race.

Mobil memang diseting agak longgar sedikit sehingga pantatnya bisa bermain ketika masuk tikungan. Jika terjadi oversteer, tinggal tahan dan twitch gas saja sedikit mobil langsung stabil lagi. Chassis merespon secara positif setiap input dan reaksi yang diberikan pengemudi.

Dalam kedua sesi tersebut saya menimba banyak ilmu. Bagaimana menggunakan rem dan gas untuk menstabilkan kendaraan yang memiliki level aerodinamika tinggi dan lantas menjinakkannya ketika memasuki tikungan medium dengan kecepatan yang tepat. Menurut saya, para pembeli Senna sudah tidak perlu terlalu memusingkan setingan mobil karena semua setingan untuk trek sudah diatur sesempurna mungkin oleh McLaren sehingga road car ini betul-betul pas ketika mau dipacu di sirkuit. Kadang jika ingin memacu supercar di sirkuit dibutuhkan ban atau brake pad khusus balap atau pun geometri suspensi yang khusus. Di Senna Anda tak butuh itu karena memang didesain sesempurna mungkin untuk trek sehingga konsumen tinggal bejek saja.

Spesifikasi McLaren Senna

Layout Kendaraan: Coupe, 2 pintu, 2 penumpang, rear-mid engine, RWD
Mesin: V8 Twin-turbocharge 4.0L/ 789 hp @ 7250 rpm/ 800 Nm @ 5500 – 6700 rpm
Transmisi: A/T 7-kecepatan dual-clutch
0 – 100 km/jam: 2,8 detik
Top speed: 335 km/jam (dibatasi secara elektronik)
P x L x T: 4744 x 1958 x 1229 mm
Wheelbase: 1788 mm
Bobot kosong: 1198 kg
Kapasitas Tangki: NA
Rekomendasi BBM: Bensin

ANDRE LAM

Kolom Komentar

Last Updates

McLaren 600LT Spider Lengkapi Keluarga Line Up Longtail

WOKING, 18 Januari 2019 – Rangkaian keluarga model Longtail dalam line up McLaren kembali bertambah, dengan diluncurkannya varian baru dari...

KOMPARASI: Apakah Avanza Lebih Unggul dari Xpander dan Ertiga?

JAKARTA, 18 Januari 2019 - Kehadiran Toyota New Avanza dan New Veloz menjadi perbincangan hangat dunia otomotif dalam beberapa pekan...

Toyota New Avanza Hadir, Mitsubishi Gentar Suzuki Lebih Santai

JAKARTA, 18 Januari 2019 - Kehadiran Toyota New Avanza dan Grand New Daihatsu di Indonesia rupanya tidak terlalu menggentarkan pasar...

TIPS: Mau Mobil Hemat BBM? Cukup Ubah Gaya Nyetir

JAKARTA, 18 Januari 2019 – Hemat atau tidaknya penggunaan bahan bakar miyak (BBM) alias bensin sebuah kendaraan, menjadi hal yang...

Mitsubishi Sedang Persiapkan Xpander Versi Baru?

JAKARTA, 18 Januari 2018 – Persaingan di pasar kendaraan Low MPV semakin panas setelah kehadiran Toyota New Avanza yang baru...