Beranda Drives Ferrari GTC4Lusso, A Short Escape in Jabal Jais

Ferrari GTC4Lusso, A Short Escape in Jabal Jais

Tidak setiap hari Anda mengendarai supercar sembari menari-nari di pinggang gunung tertinggi di Uni Emirat Arab.

MENERIMA undangan Ferrari selalu membuat saya excited. Maklum mengendarai The Prancing Horse bukanlah pengalaman sehari-hari buat saya. Nah, ketika undangan eksklusif mengikuti Regional Driving Experience di Dubai, Uni Emirat Arab, tiba di kantor redaksi Carvaganza, saya pun mengiyakan untuk ikut serta. Ferrari menjanjikan pengalaman tak terlupakan.

Setelah terbang selama 8 jam lebih, saya tiba di Dubai, satu dari tujuh Emirat yang tergabung dalam Uni Emirat Arab. Kejutan langsung saya dapatkan. Ferrari menempatkan kami menginap di Jumeirah Zabeel Saray sebuah Hotel dan Resort bintang lima yang terinspirasi arsitektur dan seni Ottoman. Hotel ini berada di Palm Jumeirah yang ikonik. Dari kamar hotel saya bisa menyaksikan Arabian Gulf dan Dubai skyline.

Toh menginap di hotel mewah ini tak bisa mengurangi deg-degan saya menunggu besok pagi. Usai sarapan, kami mendapat brief dari dua Pilotas, semacam instruktur, yang didatangkan langsung dari markas besar Ferrari di Maranello, Italia. Mereka memberikan tips bagaimana mengendarai sporstcar dan supercar “sekelas” Ferrari. “We want you to enjoy the car,” kata Andrea, salah satu pilotas.

Selesai briefing, delapan jurnalis dari Asia menuju halaman depan hotel. Di depan sudah terparkir empat unit Ferrari yang siap kami uji yaitu Ferrari 448 Spider berwarna kuning, Ferrari 812 Superfast warna merah, GTC4Lusso T dengan warna abu-abu, serta GTC4Lusso berkelir putih yang jadi “jatah” saya.

Rekan saya kali ini adalah Tien Chew, Senior Digital Editor Malaysia Tetler. Saya memintanya untuk pertama mengemudi. Rute pertama kali adalah dari Zabeel Saray menuju Ritz Carlton Al Wadi Desert di Ras Al Khaimah – Emirates yang berbeda dengan Dubai. Dari hotel kami menuju Sheikh Zayed Road, Umm Suqeim Road, kemudian Sheikh Mohammed Bin Zayed Road-Sharjah menuju Ritz Carlton Al Wadi Desert di Ras Al Khaimah yang berjarak sekitar 117 km.

Saat masuk ke kabin, saya duduk di sebelah kanan karena mobil ini menggunakan setir kiri. Tampilan kabinnya mirip dengan sang adik GTC4Lusso T. Baik dari sisi desain maupun penempatan tombol-tombol pengaturan.

“It’s my first time to drive left-hand drive. Tak biasalah,” kata Tien Chew mengaku dengan bahasa Inggris campur Melayu. Ternyata ia tak butuh lama untuk beradaptasi dengan supercar empat penumpang tersebut. Hanya 10 menit, dia sudah beberapa kali menekan gas cukup dalam. Hanya saja Dubai yang menjadi kota terpadat di UEA membuat jalanan cukup ramai. Begitu masuk tol, barulah ia beraksi.

Saya baru mendapat jatah menyetir setelah kami beristirahat di sebuah stasiun pengisian bahan bakar. Saat duduk di bangku pengemudi, saya seperti kembali ke Italia saat menjajal GTC4 Lusso T. Semua pengaturan, mulai dari tombol engine start stop, pengaturan suspensi, lampu utama, lampu sein, driving mode, penerima panggilan telepon, bahkan washer untuk wiper semuanya ada di lingkar kemudi – persis GTC4Lusso T.

Saat mesin dihidupkan, raungan knalpot langsung terdengar. Mesin tipe V12 65 derajat berkapasitas 6.262 cc benar-benar menghasilkan tenaga “raksasa”. Tenaga 680 hp pada 8,000 rpm dan torsi 697 Nm pada 5.750 rpm membuat tubuh saya tersentak ke belakang.

Di awal saya menggunakan mode otomatis. Saya tak perlu menekan gas dalam-dalam untuk membuat mobil melesat dengan cepat. “Jabbar, great,” kata saya yang diiyakan Thien Chew. Kemudian saya teringat omongan Andrea saat briefing, “Why not try the fastest gearbox in the world?.” Langsung saya menggunakan mode manual dengan memanfaatkan paddle shift di belakang kemudi. Sensasi transmisi F1 DCT 7-kecepatannya jauh lebih asik. Saya bisa “memaksa” putaran mesin hingga maksimal.

Data resmi Ferrari menyebutkan jika GTC4Lusso bisa menempuh 0-100 km/jam dalam 3,4 detik saja dan top speed 335 km/jam. Meski Andrea beberapa kali mengingatkan soal speed limit dan kamera pemantau, saya sempat menggeber mobil ini sampai 275 km/jam.

Tiba di Ritz Carlton Al Wadi Desert Ras Al Khaimah, saya kembali dibuat terkesima. Hotel dan Resort ini berada di tengah gurun pasar Al Wadi. Jalanan menuju lokasi kami disuguhi hamparan pasir di kiri-kanan jalan. Kamar yang disiapkan Ferrari tak kalah mewah, masing-masing memiliki kamar mandi yang sama luas dengan kamar. Plus, kolam renang pribadi yang menghadap ke gurun pasir. Wuihh….

Tujuan kami berikutnya adalah Jabal Jais Mountain yang berjarak 90,3 km. Jabal Jais, Jabal al-Jays atau Jabal Bil Ays adalah sebuah gunung setinggi 1.911 m di atas permukaan laut di perbatasan antara Uni Emirat Arab dan Oman. Titik tertinggi gunung ini sebenarnya berlokasi di sisi Oman, namun sebuah bukit di bagian barat dianggap sebagai titik tertinggi di Uni Emirat Arab, dengan ketinggian 1.892 meter.

Sebelumnya saya berpikir, UEA identik dengan gedung-gedung tinggi dan supercar yang kerap terlihat di Dubai atau Abu Dhabi. Ternyata kumpulan Emirat yang kaya minyak ini juga memiliki dataran tinggi dan salah satu jalanan terbaik di dunia, tepatnya di Jabal Jais. “One of the best road in UEA” memang pantas disematkan pada jalanan menuju puncak Jabal Jais ini. Saya merasa seperti membawa GTC4Lusso di sirkuit, bukan di jalan raya.

Sesampai di puncak, kami melakukan sesi foto dan video. Udara di atas Jabal Jais ternyata cukup dingin, sekitar 16 derajat Celcius. Sementara berhenti, banyak pengunjung lain berfoto di depan keempat Ferrari. Shooting-brake coupe ini memang memiliki desain menarik dengan bagian belakang bergaya fastback, twin rear light khas Ferrari, serta grille depan besar yang memberikan kesan atletis.

Hari sudah cukup gelap saat kami kembali dari Jabal Jais menuju hotel. Saya kembali bergantian dengan Tien Chew. Menggeber Ferrari GTC4Lusso di jalan bebas hambatan saat malam ternyata tak kalah menyenangkan.

“We glad you enjoy our drive today,” kata Helmi Sghaier, PR & Press Manager Ferrari Middle-East & Africa yang menjadi tuan rumah acara kali ini saat makan malam. “How can’t you?” kata saya. “We’re staying at the best hotels, driving one of the best cars, at one of the best roads in the world!”

RAJU FEBRIAN