Beranda EDITOR'S PICKS FEATURE: Kanjozoku, Breaking the myth

FEATURE: Kanjozoku, Breaking the myth

Kanjozoku racing merupakan fenomena tersendiri dalam underground culture Osaka, Jepang. Dengan mengenakan topeng untuk menutupi identitas, para racer menjadi mitos di dunia otomotif.

BERBAGI

SUARA berat dari knalpot memantul di dinding-dinding yang membentengi sebagian jalan bebas hambatan di Osaka, Jepang. Tak lama kemudian sekitar dua lusin Honda Civic lansiran 1980-an dan 1990-an melesat dalam kecepatan tinggi melewati pengemudi lain. Dalam sekejap mereka tenggelam dalam  kegelapan, hanya meninggalkan jejak debu dan suara yang ikut menghilang seiring dengan waktu.

Tiba-tiba lampu sirine dari mobil polisi memantul di permukaan jalan, menerangi malam dengan cahaya merah yang menarik perhatian. Mobil tersebut tak masuk dari pintu tol seperti pengguna jalan lainnya. Polisi memiliki akses untuk menggunakan lift yang langsung membawa mereka dengan cepat ke tengah rute Kanjo, jalan bebas hambatan melingkar yang menghubungkan daerah-daerah di kota Osaka sepanjang 7,68 km.

Para racer yang sedang berkumpul langsung lari ke mobil mereka yang terparkir, mengenakan topeng dan melesat meninggalkan area. Polisi seperti tak berdaya mengejarnya. Ia memerintahkan mereka untuk menepi melalui loud speaker. Tentu saja permintaannya tak digubris. Bukannya langsung menghilang, para racer mengelilingi mobil polisi seperti kawanan serigala mengepung mangsanya. Mereka memblokir jalur sang polisi dan berjalan pelan. Mobil polisi pun ikut berjalan pelan. Tak jelas siapa mengejar siapa. Setelah bosan bermain-main, para racer kembali geber gas dan kembali menghilang dalam kegelapan malam.

Baca Juga:  3 Peslalom TTI Perkuat Tim Indonesia di Ajang AAGC 2017

Pemandangan seperti itu merupakan kegiatan rutin para racer Kanjozoku yang berhasil direkam dalam video dokumenter Bowl Films. Inilah gambaran salah satu budaya bawah tanah Osaka yang telah mengakar begitu lama. Tapi jangan samakan balapan Kanjozoku dengan street racing biasa.

Meski keduanya sama-sama ilegal, pembalap street racing melakukannya karena mereka memang menyukai mobil dan kecepatan meski ilegal. Sedangkan Kanjozoku racer melakukannya karena kegiatan ini ilegal. Maka mereka mengenakan topeng agar identitas tetap terjaga jika wajah mereka terekam CCTV. Tak berhenti di situ. Pelat nomor mobil mereka pun ditutup atau tak menggunakannya sama sekali.

Pembalap Kanjozoku memandang kendaraan sebagai sekadar alat, bukan sesuatu yang mereka banggakan. Mobil dianggap sebagai senjata yang bisa mereka tinggalkan kapan pun jika kondisinya mendesak. Berhubung aktivitas ini highly illegal, sangat mungkin mereka terpojok oleh polisi. Saat itu terjadi, mereka tak ragu untuk keluar dari mobil dan lari.

Itulah sebabnya pembalap Kanjozoku menggunakan Honda Civic tua berusia lebih dari satu dekade, mobil sederhana dengan harga relatif terjangkau di Jepang. Kenapa Honda Civic? Osaka cukup dekat dengan one-make race Civic yang pernah berlangsung di Sirkuit Suzuka yang legendaris. Maka mobil ini menjadi kendaraan ‘wajib’ di balapan-balapan Kanjozoku.

Baca Juga:  3 Peslalom TTI Perkuat Tim Indonesia di Ajang AAGC 2017

Meski begitu hatchback ini lincah dan bertenaga berkat mesin VTEC-nya yang fleksibel sehingga bisa lebih kencang dari mobil lain yang lebih bertenaga. Hal ini sesuai dengan kebutuhan mereka untuk membelah malam dan berzig-zag di antara pengguna jalan lain, atau kabur dari kejaran polisi. Mereka juga tak melakukan modifikasi berat pada mesin karena tahu bahwa sewaktu-waktu mereka bisa meninggalkannya.

Tapi bukan berarti mereka tak mendandani mobilnya. Setiap pembalap bebas mengekspresikan diri melalui cat dan stiker bodi Honda Civic mereka. Bahkan dalam satu klub, terdapat beragam livery. Kebanyakan dari mereka terinspirasi oleh gaya old school dari one-make races Honda di masa lalu. Dan tak sedikit yang mengganti livery – bahkan ada yang setiap malam – agar mobil mereka tak dikenali. Jadi ketika malam ini salah satu Kanjozoku racer dikejar polisi, malam berikutnya mobil yang sama muncul dengan tampilan yang sama sekali berbeda.

Di kota-kota lain di Jepang, Honda Civic merupakan mobil yang sering terlihat di jalanan. Tapi di Osaka, hatchback ini identik dengan kendaraan outlaw karena balapan Kanjozoku sehingga besar kemungkinannya untuk dicurigai. Maka, para Kanjozoku racer selalu menyembunyikan “senjata” mereka itu di dalam garasi atau bengkel. Dari rumah, mereka pergi ke tempat penyimpanan mobil dengan kendaraan yang lebih tidak mencurigakan.

Baca Juga:  3 Peslalom TTI Perkuat Tim Indonesia di Ajang AAGC 2017

Meski Kanjozoku racing merupakan kegiatan yang highly illegal, mereka punya aturan yang harus ditepati. Beberapa di antaranya adalah tidak menyebabkan kecelakaan dan jangan menyakiti orang lain yang tak terlibat dalam balapan ini. Pasalnya, tujuan para racer itu bukanlah menimbulkan masalah dan keributan. Mereka hanya ingin mencari kesenangan dan memompa adrenalin. Dan yang lebih penting, Kanjozoku merupakan ajang untuk mengumpulkan orang dan menjalin brotherhood.

Salah satu pembalapnya berkata, “Kanjo is super fun. There’s no drug in the world that can beat it!” Lainnya menceritakan ketika ia sedang melesat dalam kecepatan tinggi di rute Kanjo, kepalanya dibanjiri dopamine sampai rasanya mau meledak. Tapi semua kesenangan itu tak membutakan mereka akan bahaya yang sangat mungkin terjadi. “Each time I drive the Kanjo, I wonder if I’m going to come back alive…”

MIRAH PERTIWI

BERBAGI

Tips

Tips Melakukan Tune-Up a la Pembalap Jalanan Italia

JAKARTA, 4 Juli2017 -- Libur Lebaran 2017 telah berakhir. Waktunya kembali beraktifitas di ibu kota khususnya. Sebelum beraktifitas, tidak ada salahnya...

Gunakan Bahan Ini untuk Menghilangkan Noda Aspal di Mobil Anda

JAKARTA, 28 Mei 2017 - Noda merupakan hal yang paling dibenci oleh semua orang. Bukan hanya noda pada pakaian saja,...

Mau Test Drive Hyundai di IIMS 2017? Ini Tipsnya

JAKARTA, 29 April 2017 -- Test drive menjadi cara ampuh untuk memahami lebih detail terhadap mobil incaran. Anda bisa mengeksplorasi...

INTERVIEW

INTERVIEW: Karen Lim, More Than Meets The Eye

Saat memasuki ruang president director BMW Group Indonesia, Karen Lim menyambut kami dengan potongan rambut baru yang lebih segar. Mukanya...

INTERVIEW: Arie Christopher Setiadharma, Ferrari Family

Pria kelahiran Jakarta ini sangat mencinta mobil. Dari kecil iya sudah menyukai mobil, bahkan sejak SD sudah menggilai majalah-majalah yang...

Stefano Domenicali: Lamborghini Kerahkan SDM dan Jaringan Dealer Sambut Urus

JAKARTA, 7 Maret 2017 – Tinggal satu bulan lagi Lamborghini Urus akan memasuki tahap produksi yaitu pada bulan April depan....

MORE UPDATE

Chevrolet Gelar Dare To Drive di Serpong

SERPONG, 21 Juli 2017 - PT General Motors Indonesia selaku Agen Pemegang Merek Chevrolet di Indonesia kembali membuktikan ketangguhan serta...

Pertamina Ajak Konsumen Nonton Balap F2 di GIIAS 2017

JAKARTA, 21 Juli 2017 -- PT Pertamina (Persero) bakal luncurkan “My Pertamina Loyalty Program” di ajang GIIAS 2017. Program ini...

3 Peslalom TTI Perkuat Tim Indonesia di Ajang AAGC 2017

SEMARANG, 21 Juli 2017 -- Tiga peslalom andalan Toyota Team Indonesia (TTI) -- Demas Agil, Anjasara Wahyu dan Adrianza Yunizal...

Ini Honda Civic Type R Custom Kreasi OneRepublic

TOKYO, 21 Juli 2017 - Hot hatch Honda yaitu Honda Civic Type R memang terlahir dengan gaya yang sporty dan sangat menawan. Namun tampilan...

Ini Dia tampilan Pikap Mercedes-Benz X-Class

MUENCHEN, 21 Juli 2017 – Kabar mengenai rencana Mercedes-Benz membangun sebuah truk pikap sudah beredar sejak tahun 2015 lalu. Sejak...