Beranda EDITOR'S PICKS Mengapa Harus Rio Haryanto? (Bagian 2)

Mengapa Harus Rio Haryanto? (Bagian 2)

Sulit bagi pembalap berpretasi dari negara-negara seperti Indonesia, Brasil, Malaysia dan sejenisnya untuk berprestasi di balapan level yang lebih tinggi tanpa dukungan negara.

BERBAGI

Rio Haryanto menjadi orang Indonesia pertama yang menjuarai kompetisi balap GP3 Series dan GP2 Series, yang merupakan jenjang balap menuju F1, the Pinnacle of Motorsport. He is on the right track. Lebih dari 10 kali Rio menggenggam trofi kemenangan, di saat tidak ada satupun pembalap di Asia Tenggara dan bahkan Asia yang sanggup meraih trofi itu di kedua seri balapan tersebut. Rio berada di antara 24 orang terpilih dari ribuan bahkan mungkin ratusan ribu pembalap yang ingin berlaga di kedua ajang itu.

Kini, Rio sudah berada di depan pintu gerbang F1. Tinggal masuk. Ia telah menjadi material solid hasil seleksi alam untuk menjadi bagian dari kelompok elit 20 pembalap dunia paling mentereng. Dan hal itu merupakan hasil seleksi dari ribuan anak muda pembalap dari seluruh dunia yang ingin menggapai mimpi yang sama.

Lantas mengapa mesti Rio? Kenapa publik atau pemerintah perlu mendukung Rio agar bisa tampil di F1? Ia adalah anak muda yang torehan karyanya adalah hasil seleksi alam yang sadis kerasnya. Kita tidak salah jika menganggap bahwa secara nominal biaya untuk menyuport Rio sangat tinggi. Lebih dari Rp 200 miliar. Angka yang fantastis jika Anda menganggapnya hanya untuk seorang Rio.

Baca Juga:  Alfa Romeo Come Back ke Formula 1 Bersama Sauber

Tetapi apakah memang untuk seorang Rio? Mari kita mendudukannya di dalam perspektif dan mindset F1.

Selain sebagai olahraga bermotor, F1 itu semacam koridor pamer. Ia memiliki tools untuk membantu memamerkan sesuatu yang dapat terukur dan terkalkulasi. Berdasarkan data tahun 2014, jumlah penonton F1 via TV di dalam setahun berada pada kisaran 450 – 500 juta viewer dihitung dari penonton weekend race yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun TV berlisensi menyiarkan F1 ke mancanegara. Belum dihitung dengan tayangan ulang, highlight balap dan tayangan-tayangan lain di ragam stasiun TV mancanegara.

Selain di TV, eksposure F1 juga dapat dinikmati di Youtube, games, ragam media sosial dan media massa, acara-acara promo, film, diecast, mainan, dan tentunya di sirkuit itu sendiri. Jika dilihat dari eksposure F1 yang demikian besar,  F1 bisa menjadi alat mempromosikan Indonesia ke dunia secara efektif. F1 sampai sekarang masih bertengger sebagai salah satu ajang olahraga tahunan yang menyedot penonton tertinggi di dunia.

Baca Juga:  Alfa Romeo Come Back ke Formula 1 Bersama Sauber

Makanya tingginya eksposure F1 membuat biaya balapan di single seater ini mahal. Selain juga karena faktor teknologi, kendaraan yang digunakan dan gelaran sirkusnya yang extravaganza. Namun, Formula 1 adalah motorsport yang tidak pernah ‘kering’ dan terus mendapatkan perhatian. Bahkan negara-negara di dunia berlomba-lomba berebutan untuk menjadi tuan rumah. Pabrikan mobil maupun privateer pun masih mengantri untuk ikut.

Bagi tuan rumah, pabrikan, privateer dan sponsorship F1 adalah investasi. Memang tidak ada jaminan bahwa jika Anda menjadi tuan rumah hari ini, besok Anda akan meraup keuntungan riil berkelimpahan. Bahkan tidak ada jaminan bahwa tim-tim pabrikan yang mengikuti balapan di weekend, pada hari Seninnya jualannya meroket. Namun saya rasa kita semua sepakat bahwa apa yang kita petik pada hari ini bukanlah hasil dari yang kita tanam kemarin sore.

Sama halnya dengan Rio. Anak muda ini adalah produk dari kemampuan sebuah bangsa yang lahir 70 tahun lalu. Anak muda yang meretas kariernya sejak 15 – 17 tahun lalu di gokart sampai akhirnya mampu melewati kompetisi ekstra ketat di jenjang yang lebih tinggi. Maka sudah sepantasnya jika negara memberikan penghargaan atas perjuangan dan usaha keras yang dipersembahkan anak bangsa. Penghargaan berupa support dalam bentuk apapun agar anak bangsa itu terus berprestasi.

Baca Juga:  Alfa Romeo Come Back ke Formula 1 Bersama Sauber

Penghargaan itu merupakan bentuk pengakuan negara terhadap karya dan prestasi anak bangsa. Bahwa negara memang ada. Ayrton Senna, Alex Yoong, Juan Pablo Montoya, Daniil Kvyat dan banyak pembalap lainnya adalah contoh pembalap-pembalap yang berprestasi di kelas dunia karena dukungan dari negara dan pemerintahnya. Sulit bagi pembalap berpretasi dari negara-negara seperti Indonesia, Brasil, Malaysia dan sejenisnya untuk berprestasi di balapan level yang lebih tinggi tanpa kehadiran dukungan negara. Dan mungkin dalam 30 tahun ke depan belum tentu ada anak muda Indonesia seperti Rio Haryanto.

Rio sudah menjalani seleksi alam yang begitu sadis di ajang balapan single seater, dan mudah-mudahan ia mampu berbicara di level puncak motorsport dunia, Formula 1 the pinnacle of motorsport, kalau ia masuk ke ajang tersebut.

EKA ZULKARNAIN

subscribe Carvaganza's youtube channel to get the latest car reviews

BERBAGI



Honda Mobilio Battle of Efficiency Catat Konsumsi 24,1 Km/Liter

JAKARTA, 11 Desember 2017 -- PT Honda Prospect Motor menggelar tatangan hemat bahan bakar bagi komunitas dan calon konsumen Honda...

Maserati Levante Masuk Indonesia, Harga Rahasia

JAKARTA, 11 November 2017 – PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) meluncurkan Maserati Levante di Hotel Fairmont, Jakarta, hari ini, Senin,...

Innova Community Gelar Pelatihan Detailing bagi Komunitas

JAKARTA, 11 DESEMBER 2017 -- Komunitas atau klub otomotif tidak hanya sekedar kelompok kongkow atau berbagi informasi seputar kendaraan. Kegiatan...

BMW X3 Dapat Tampilan Baru

BANGKOK, 11 Desember 2017 – Tingginya permintaan crossover SUV terus disikapi BMW. Mereka meluncurkan 2018 BMW X3 yang sudah mendapat...

Mitsubishi Motors dan Pemerintah Indonesia Menyepakati Rencana Terkait Kendaraan Listrik

TOKYO, 11 Desember 2017 - Mitsubishi Motors Corporation (MMC) dan Pemerintah Indonesia hari ini mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman terkait pengembangan...