Home EDITOR'S PICKS FEATURE: Cars From Eastern Bloc, The Antithesis

FEATURE: Cars From Eastern Bloc, The Antithesis

Perang Dingin membuahkan mobil unik dan tahan banting yang diproduksi di balik Tirai Besi

SHARE

Kendaraan sudah tak lagi sekadar alat transportasi. Mobil sudah menjadi simbol status untuk merepresentasikan identitas diri. Maka tak heran jika para manufaktur menawarkan berbagai fitur personalisasi seperti memori untuk setingan posisi duduk dan setir. Bahkan pabrikan mobil mewah memberikan bespoke sebagai standar. Anda bebas menentukan seperti apa interior yang diinginkan, mulai dari warna, material sampai desainnya.

Semua ini berawal dari mind set bahwa setiap manusia unik. Perbedaan menjadi kekuatan dan dirangkul serta dirayakan dengan gembira. Setiap individu memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya. Dan kebebasan ini dilindungi dalam pasal 19 Universal Declaration of Human Rights yang disahkan PBB tahun 1948. Deklarasi tersebut muncul setelah penderitaan yang dialami pada Perang Dunia II.

Undang-undang ini disetujui oleh 48 negara dan banyak di antaranya merupakan bagian dari Blok Barat. Tapi delapan negara memilih untuk abstain dan sebagian besar merupakan negara-negara berpaham komunis yang tergabung dalam Blok Timur. Hal ini bisa dimengerti mengingat ketegangan akibat Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur yang terjadi sekitar 1941 sampai 1991.

Kondisi tersebut berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan, termasuk industri otomotif. Mobil merupakan salah satu dari hasil manifestasi intelektual manusia yang dipandang secara kolektif. Singkatnya, mobil merupakan salah satu perwujudan budaya yang tentunya dipengaruhi kondisi politik.

Selama Perang Dingin, negara-negara Blok Timur menutup diri. Di balik Tirai Besi, mereka mejalankan kehidupannya seperti membangun kekuatan militer, ekonomi dan juga mobil. Mereka menolak nilai-nilai barat. Anda tak akan menemukan kemewahan, finesse maupun personalisasi pada mobil Blok Timur.

Kendaraan mereka didesain berdasarkan fungsi dengan mengusung nilai kesetaraan, bukannya individualisme. Inilah antitetsis dari pandangan bahwa mobil merupakan simbol status di budaya Barat. Mereka menawarkan apa yang tak ada pada mobil Barat: practicality dan harga rendah. Dan inilah yang membuatnya unik.

Lihat saja Lada Riva. Meski bentuknya mengingatkan Anda akan gambar anak kecil, mobil yang menggunakan platform Fiat 124 tersebut tahan banting. Lahir di Rusia era 1970-an, Lada Riva diciptakan sebagai mobil rakyat di tengah kondisi ekstrem. Rusia di masa itu memiliki permukaan jalan yang buruk. Maka mobil tersebut memiliki bodi luar yang diperkuat, ground clearance dibuat tinggi dan rem belakangnya menggunakan aluminium. Demi menyiasati temperatur udara yang sangat dingin, Lada menambahkan fuel pump manual dan engkol untuk starter mobil jika aki habis.

Meski dipersenjatai mesin 1,3 L dengan tenaga hanya 65 hp, Riva memiliki durabilitas tinggi dan mechanic-friendly sehingga punya pasar tersendiri di Eropa Barat. Mobil ini diekspor ke Inggris, Belanda, Selandia Baru (digunakan sebagai taksi), dan Kanada. Tapi karena regulasi emisi dan keselamatan semakin ketat, Riva ditarik dari sebagian besar negara-negara Eropa Barat pada 1997. Meski begitu, Riva bekas masih sangat populer sampai sekarang di Rusia karena harganya yang murah.

Lain lagi ceritanya dengan Skoda yang berdiri sejak 1895 dengan nama Laurin & Klement. Manufaktur asal Cekoslovakia yang kini pecah menjadi Republik Ceko dan Slovakia ini cukup sukses sebelum Perang Dingin. Produk-produk mereka bersaing dengan mobil Eropa Barat.

Tapi di bawah kekuasaan komunis, Skoda harus menggunakan dan mendaur ulang material lama untuk mengembangkan mobil baru. Maka tak heran jika di akhir 1980-an, mereka masih memproduksi mobil dengan teknologi 1960-an.

Meski begitu, Skoda terbukti reliabel. Skoda Estelle berkompetisi di RAC Rally pada 1970-80-an dan beberapa kali menang di kelasnya. Walaupun Keduanya kerap menjadi bahan celaan, Estelle dan Rapid banyak terlihat di jalanan Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya di era itu.

Setelah jatuhnya kekuasaan Partai Komunis di Cekoslovakia pada 1989, pemerintah menarik partner asing. Dan mereka memilih Volkswagen sebagai mitra Skoda. Dengan mendapat masukan dari tenaga ahli dan investasi VW, bentuk dan teknologi Skoda jauh berkembang pesat. Tak seperti Lada yang sudah berhenti produksi, Skoda masih bertahan sampai saat ini.

Pergeseran peta politik di Cekoslovakia juga terjadi di Jerman Timur pada tahun yang sama. Runtuhnya Tembok Berlin menandai tahun-tahun terakhir keberlangsungan Trabant. Mobil rakyat tersebut pertama kali muncul tahun 1957 dengan model P50. Berbekal mesin 500 cc dua-tak, tenaga yang dihasilkan hanya 18 hp.

Berhubung harga material metal mahal, bodi Trabant menggunakan Duroplast yaitu plastik resin yang diperkuat dengan serat wol dan katun. Untuk mengisi bahan bakar, Anda harus membuka kap mesin dan menuangkan bensin serta oli. Kemudian menggoyangkannya agar tercampur. Rata-rata umur sebuah Trabant adalah 28 tahun. Pasalnya, Anda butuh 10 tahun untuk mendapatkannya sejak pemesanan. Itulah sebabnya harga Trabant bekas lebih tinggi karena langsung tersedia.

Begitu Tembok Berlin runtuh, ribuan penduduk Jerman Timur menggunakan Trabant untuk menyeberangi perbatasan ke Jerman Barat. Alhasil Trabant menjadi salah satu simbol jatuhnya komunisme. Bahkan seorang seniman, Birgit Kinder, menggambarkan mobil ini di salah satu sisa-sisa Tembok Berlin. U2 juga mengabadikan Trabant di cover album “Achtung Baby”.

Nilai-nilai historis dan kepraktisan mobil-mobil Blok Timur inilah yang membuatnya masih dicari para kolektor. Termasuk para car enthusiast dari negara-negara Blok Barat.

MIRAH PERTIWI

SHARE

Tips

Mau Test Drive Hyundai di IIMS 2017? Ini Tipsnya

JAKARTA, 29 April 2017 -- Test drive menjadi cara ampuh untuk memahami lebih detail terhadap mobil incaran. Anda bisa mengeksplorasi...

Perhatikan Hal Ini Jika Mau Beli Mobil Seken

JAKARTA, 25 April 2017 – Membeli mobil bekas atau mobil seken, bisa jadi alternatif bagi calon konsumen yang membutuhkan kendaraan...

Hindari Tabrakan, Jaga Jarak Aman Kendaraan Anda

JAKARTA, 18 Maret 2017 - Kecelakaan merupakan sebuah hal yang sangat tak diinginkan oleh siapapun. Hal tersebut bisa saja diantisipasi...

INTERVIEW

INTERVIEW: Arie Christopher Setiadharma, Ferrari Family

Pria kelahiran Jakarta ini sangat mencinta mobil. Dari kecil iya sudah menyukai mobil, bahkan sejak SD sudah menggilai majalah-majalah yang...

Stefano Domenicali: Lamborghini Kerahkan SDM dan Jaringan Dealer Sambut Urus

JAKARTA, 7 Maret 2017 – Tinggal satu bulan lagi Lamborghini Urus akan memasuki tahap produksi yaitu pada bulan April depan....

Carl Isenbeck: Porsche di Indonesia Punya Trend Positif

JAKARTA, 28 Februari 2017 -- Porsche tak mau ketinggalan bersaing di pasar mobil premium di tanah air. PT Eurokars Artha...

MORE UPDATE

Perawatan Kendaraan Tata Kini Bisa di Pebee Garage

JAKARTA, 30 April 2017 - Tata Motors Distribusi Indonesia (TMDI), lewat divisi costumer care, mengumumkan kerjasama dengan anak usaha PT....

Terbesar dan Rekor, Mercedes-Benz Boyong 19 Model di IIMS 2017

JAKARTA, 29 April 2017 -- Mercedes-Benz menggunakan Indonesia International Motor Show (IIMS), 27 April sampai 7 Mei 2017, sebagai panggung...

Turtle Wax Metallic Car Kini Tersedia Dalam Kemasan Sachet

JAKARTA, 29 April 2017 - Bersih dan mengkilapnya mobil kini menjadi suatu kebutuhan bagi para pecinta otomotif diseluruh dunia. Kepraktisan...

BMW 740Li Dirakit Lokal di Sunter, Ini Alasannya

JAKARTA, 30 April 2017 -- BMW memperkenalkan BMW 740Li versi rakitan Indonesia di arena IIMS 2017 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta....

Tata Xenon HD, Jagoan Bawa Barang Banyak

JAKARTA, 29 April 2017 -- Tata Motors Distribusi Indonesia (TMDI) menggunakan ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2017 untuk memperkenalkan...