Mengapa Harus Rio Haryanto? (Bagian 1)

Mengapa Harus Rio Haryanto? (Bagian 1)

Hingar bingar pemberitaan soal Rio Haryanto, anak muda yang masih berumur 20-an, tepatnya 23 tahun, namun namanya sudah melanglang buana, dan perlu memasuki karier balap yang lebih tinggi menyita perhatian publik Indonesia. Termasuk saya. Nama pemuda kelahiran Solo yang menjadi orang Indonesia pertama yang merajai podium balapan bergengsi dunia, GP2 Series, sedang hangat diperbincangkan.

Pikiran saya melayang ke beberapa tahun silam, ketika saya bertemu Rio Haryanto masih balapan single seater di level junior. Kira-kira tahun 2008 silam di Sirkuit Sepang, Malaysia, saat ia mengikuti Formula Asia. Postur tubuhnya saat itu seperti pembalap-pembalap lain; berperawakan sedang, namun tegap. Mukanya masih imut-imut, mungkin waktu itu masih berumur 14 atau 15 tahunan. Masih malu-malu ketika didekati oleh media. Termasuk oleh saya. Namun ia banyak melemparkan senyum.

Ketika saya ajak ia berbicara, masih malu-malu. Nadanya pelan dan intonasinya seperti orang kumur-kumur. Datar dan seperti tanpa ekspresi. Mengingatkan saya kepada pembalap favorit saya, Kimi Raikkonen yang waktu itu tergabung di tim McLaren. Gaya bicara Kimi juga mirip seperti orang kumur-kumur, kurang jelas terdengar dan datar. Tapi yang membedakan Rio, banyak senyum, sedangkan Kimi seperti batu.

Pembicaraan kami saat itu terpotong. Engineer memanggil Rio untuk mendiskusikan balapan hari itu. Saya melanjutkan jalan-jalan di pitlane di depan jajaran mobil balap. Sebetulnya juga bukan pitlane utama di main garage Sirkuit Sepang, hanya barisan tenda-tenda warna putih untuk meneduhi tim dari panas. Posisinya pun terdapat di belakang sirkuit. Maklum waktu itu balapan yang diikuti Rio hanya supporting race single seater yang lebih senior. Kalau tak salah Formula V8 Renault Asia Pacific.

Usai berjalan di ‘pitlane’ supporting race, saya kembali berjalan menuju main garage di depan grandstand sirkuit. Jaraknya lumayan jauh. Kemudian menelusuri garasi demi garasi demi menghirup bahan bakar balapan yang wanginya semerbak khas. Ditingkahi suara menyalak galak, membentur-bentur genda telinga. Seperti berjalan di medan tempur di bawah hujan tembakan, atau di tengah demonstrasi yang riuh dihujani teriakan.

Tak ada yang istimewa dari Rio saat itu. Hanya gaya bicaranya yang mirip Kimi Raikkonen saja.

Selesai di  pitlane balapan utama, saya kembali ke pitlane balapan yang diikuti Rio. Saya berbincang dengan seorang engineer bule dan engineer asal Malaysia. Si Bule bilang, “Gila tuh pembalap yang muda, Rio. Itu anak jago, nyalinya tinggi. Serius lagi. Fokus. Bisa moncer ini anak di level balapan yang lebih atas.” Engineer Malaysia pun mengemukakan hal yang hampir sama.

Saya jadi tergelitik ingin tahu. Saya kemudian ngobrol dengan ayah Rio, Sinyo Haryanto. Akhirnya saya mendapat empat keping disk rekaman balapan Rio, salah satunya di Zhuhai, Cina. Kalau tidak salah. Agak lupa saya. Dari rekaman itu saya jadi tahu, ini memang anak “gila”. Dalam dua tikungan S besar, Rio menyalip 4 pembalap berturut-turut dari sisi yang sulit. Satu tikungan dari dalam dan satunya dari luar. Dan presisi. Hal sulit karena dia harus menjaga racing line dan ritme kecepatan di dua tikungan secara bersamaan.

Sejak Sepang 2008, saya bertemu Rio beberapa kali lagi di balapan yang berbeda-beda. Dan pada satu kesempatan tak sengaja saya bertemu Rio dan keluarganya di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kami pun ngobrol di sebuah food court. Cerita ngalor-ngidul, termasuk kisah Rio semasa kecil yang bertubuh gemuk, perihal dukungan keluarga terhadap karier Rio di balap sampai bagaimana sang ayah memulai bisnisnya dari nol. “Saya memulai usaha saya dari membeli kertas 2 becak. Modalnya cuma 2 juta perak. Dikasih orang tua,” aku Sinyo.

Kalau ingat bagaimana dukungan ayah kepada Rio ketika balapan di level junior, saya jadi teringat kisah ayah Lewis Hamilton, juara dunia F1 asal Inggris, mensupport anaknya agar bisa balapan di level junior sejak dari level gokart. Bagaimana Lewis Senior harus bekerja triple job di waktu yang berbeda untuk membiayai anaknya balapan. Kini Lewis Hamilton bertengger di tim Mercedes dan sebelumnya di McLaren serta menjadi juara dunia. Jalan Rio dan Lewis menuju F1 memang berbeda, namun spiritnya sama.

(Bersambung ke bagian 2)

EKA ZULKARNAIN

JAKARTA, 2 Desember 2016 - PT Nissan Motor Indonesia (NMI) mendapatkan penghargaan bergengsi dari ajang Indonesia PR of The Year...

JAKARTA, 2 Desember 2016 -- PT Astra Daihatsu Motor (ADM) kembali menggelar Daihatsu Skill Contest khusus untuk guru dan siswa...

BANDUNG, 2 Desember 2016 -- PT. Nissan Motor Indonesia pada hari ini Jumat (2/12) menyelenggarakan Nissan Media Workshop 2016 di...

JAKARTA, 2 November 2016 – Toyota Etios Valco ternyata gagal bersaing di pasar Indonesia. Hatchback dengan mesin 1,2 liter itu...

STOCKHOLM, 2 Desember 2016 -- Volvo V90 dipilih sebagai anggota terbaru dari armada Kepolisian Swedia. Keputusan ini menyusul hasil memuaskan...